Silence Behind The Spotlight (END)

Silence Behind The Spotlight (END)

  • WpView
    LETTURE 3,384
  • WpVote
    Voti 1,677
  • WpPart
    Parti 53
WpMetadataReadCompleta mar, giu 2, 2026
WpInfo
Narrativa
Mistero
Rapimento
Azione e Thriller
Psicologico
❌ DILARANG COPY PASTE CERITA ⚠️ BUDAYAKAN KREATIF SENDIRI TANPA MENJIPLAK ❌ "Tersenyum, Leony. Penonton tak perlu tahu kau hancur." Di balik gemerlap kostum dan gemuruh tepuk tangan, Leony menyimpan luka yang tak terlihat. Trauma yang ia pendam dalam diam, lahir dari perlakuan tidak pantas yang ia alami di balik panggung. Namun ia tak pernah benar-benar berani bersuara, karena setiap kali ia ingin bicara, suara orang tuanya terdengar lebih keras daripada suara hatinya sendiri. "Kalau aku bicara, siapa yang akan percaya?" Ketika tubuhnya mulai kelelahan dan jiwanya ingin menyerah, Leony justru dituntut lebih keras. Untuk menang, sempurna, terus menari. Tapi sampai kapan ia harus bertahan demi mimpi orang lain, sambil mengorbankan dirinya sendiri? Di panggung yang selalu menuntut segalanya darinya, Leony mulai menyadari satu hal. Kadang keberanian bukan soal memenangkan kompetisi, tapi soal menyelamatkan diri sendiri.
Tutti i diritti riservati
#36
dramaromansa
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Dalam Kata, Kupeluk Namamu
  • Mengalah? Gak papa (END)✔
  • Waktu?
  • A Symphony of life
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Nathalea
  • My Beloved Revenge [END]
  • Hilang

Naya tidak pernah pandai berbicara. Ia mencintai dalam diam, mengagumi dari kejauhan, dan menyimpan rindu dalam barisan kata yang ia tempelkan di mading sekolah. Tak ada yang benar-benar tahu siapa penulis di balik tulisan-tulisan itu-kecuali satu orang yang mulai memperhatikan keheningannya: Reyhan. Di tengah perjalanan yang sunyi dan luka kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh, Naya memilih menulis sebagai pelarian, sebagai tempat berlindung, dan sebagai cara mencintai dunia yang terasa terlalu bising. Namun ketika penyakit lama kembali menggerogotinya, Naya tahu: tak semua cerita akan menemukan akhirnya. Lewat tulisan terakhirnya, Naya mengungkapkan perasaannya, bukan untuk didengar, tapi untuk dikenang. Dalam kata, ia memeluk seseorang yang tak bisa ia gapai. Dalam sunyi, ia meninggalkan jejak yang tak akan hilang.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti