Suara yang tenggelam

Suara yang tenggelam

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 13, 2025
Di balik gemerlap kota dan janji-janji keadilan, ada tujuh lelaki yang memilih jalan sunyi. Mereka bukan pahlawan, bukan pula penjahat mereka adalah bayangan di antara kekacauan, tangan tak terlihat yang menghapus jejak para koruptor. Ketika hukum menjadi alat bagi mereka yang berkuasa, kelompok ini mengambil keadilan ke tangan sendiri. Operasi mereka terencana rapi, tak ada yang tahu keberadaan mereka. Hingga suatu hari, satu kesalahan kecil membuka celah besar. Mereka kini bukan hanya pemburu, tapi juga yang diburu. Di tengah konspirasi, pengkhianatan, dan rahasia yang terlalu berbahaya untuk diungkap, satu pertanyaan muncul: Apakah keadilan masih memiliki tempat di dunia ini, ataukah mereka hanya akan menjadi suara yang tenggelam?
All Rights Reserved
#50
kekacauan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Conscience.
  • WRAAK ONDER HET HOUT
  • I Want You To Be Happy
  • Seven Seekers [END)
  • REUNITED
  • Your My World [ JINKOOK ] END
  • SPECTER7
  • KODE TUJUH : TITIK NOL

Setiap orang memiliki hati nurani. Tidak terkecuali orang paling keji dan paling jahat sekalipun. Yang mengherankan dari hati nurani adalah semua orang memilikinya, tapi tidak terlalu banyak yang menggunakannya. Terkadang orang yang menjunjung tinggi keadilan dan kebajikan justru adalah orang yang jarang menggunakan hati nuraninya. Lalu apa sebenarnya hati nurani itu? Mengapa orang yang mengaku sebagai pembela kebenaran justru bertingkah brutal sementara orang yang jelas-jelas berbuat jahat itu adalah orang yang paling tidak mampu menyakiti orang lain? Singkatnya ini adalah sepotong kisah kecil dari perjalanan hidup orang yang sudah melupakan hati nuraninya dan orang-orang yang masih menggunakan hati nuraninya agar tetap waras di zaman kegilaan. Dimana penjahat dengan terang-terangan berbuat jahat dan aparat pembela kebenaran juga ikut berbuat jahat. Yang paling mengerikan di jaman ini adalah seorang yang memiliki pangkat tertinggi sebagai pembela masyarakat kecil atau yang lebih dikenal sebagai polisi ternyata justru menjadi korban dari aksi kejahatan. Atau mungkin lebih pantas dibilang sebagai karma atas perbuatannya selama ini. Bukan berarti dia kejam atau sebagainya, tapi dia hanya berpikir atas perintah saja tanpa memperhatikan sisi kemanusiaan yang dia junjung tinggi sebelum mendapat jabatan. Tentunya dia frustasi karena semua tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan. Karena di jaman ini, penjahat bisa lebih manusiawi daripada orang yang mengaku sebagai pelindung masyarakat. Rekan kerja, pimpinan di tempat kerja, anggota dewan dan bahkan keluarga dan anak-anak tidak lagi berharga di depan orang pembunuh. Dan sialnya lagi, Sugeng selaku kepala polisi harus berhadapan dengan mereka dengan status yang terbalik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines