Aku sudah terbiasa menunggu.
Menunggu bukan lagi sesuatu yang melelahkan bagiku, ia sudah menjadi bagian dari caraku bernapas. Aku menunggu seperti orang lain menunggu pag, tanpa bertanya apakah matahari akan datang, hanya percaya bahwa ia seharusnya datang.
Malam ini pun sama.
Aku duduk di ruang tamu dengan lampu setengah redup. Televisi menyala, tapi suaranya kecil. Aku tidak benar-benar menonton. Aku hanya ingin ada suara lain selain detak jam dinding yang terlalu keras saat rumah ini sunyi.
Aku selalu percaya bahwa pernikahan adalah soal bertahan. Bukan soal bahagia, bukan soal cinta yang meletup-letup seperti di cerita orang lain, melainkan tentang kemampuan menahan luka tanpa mengeluh. Dua puluh tiga tahun ia memegang keyakinan itu, seerat ia menggenggam cincin di jari manisnya, cincin yang sudah lama terasa longgar, bukan karena jarinya mengecil, melainkan karena harapannya yang menyusut.
Emila Rosita
Hak Cipta Terpelihara