Bagi Lia, kopi bukan sekadar minuman-itu adalah bahasa.
Cappuccino untuk mereka yang manis, latte untuk mereka yang mencari kenyamanan, dan Americano... untuk mereka yang misterius, pahit di awal, tapi sulit dilupakan.
Saat mulai bekerja di Beans & Brews, kafe kecil milik kakaknya yang berada dekat sekolah, Lia bertemu dengan seseorang yang pas dengan definisi itu.
Desta, siswa kelas tiga yang selalu datang setiap sore, duduk di sudut yang sama, dan memesan Americano tanpa gula.
Dingin. Pendiam. Nyaris tak pernah tersenyum.
Sebuah teka-teki yang entah kenapa membuat Lia ingin mengenalnya lebih jauh.
Awalnya, semuanya terasa biasa. Hingga Lia mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Desta-mata lelahnya, cara ia menggenggam cangkir terlalu erat, kesendiriannya yang terasa berat, dan cara ia menatap kopi seolah butuh waktu untuk bertahan.
Dan tanpa sadar, Lia berharap... Desta bukan hanya melihat kopi di tangannya, tapi juga dirinya.
Di antara aroma espresso yang menguar dan percakapan singkat yang berubah menjadi kebiasaan, Lia belajar satu hal penting:
beberapa orang tidak bisa didekati secepat menyesap kopi hangat.
Beberapa, seperti Americano, membutuhkan waktu-pelan, pahit, namun meninggalkan rasa yang tak mudah hilang.
Keluarga Adicandra nggak kenal kata "lemah". Buat mereka, hidup itu soal angka di bursa saham, reputasi di koran bisnis, dan kesempurnaan fisik. Sayangnya, Galen, anak ketiga dari empat bersaudara, lahir sebagai "produk gagal" di mata mereka. Penampilan cupu, kacamata tebal, dan sifat pendiamnya bikin dia cuma jadi bayangan di rumah mewah itu. Sampai suatu titik, Galen sadar kalau mau jungkir balik kayak gimana pun, dia nggak akan pernah dianggap.
Galen milih pergi. Dia buang identitas Adicandra, ganti gaya jadi bad boy yang rebel, dan mulai hidup di jalanan. Tapi saat dia mulai nyaman dengan kebebasannya, keluarga yang dulu mengabaikannya tiba-tiba merasa kehilangan "aset" dan mulai berburu Galen dengan cara yang gila.