We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Sampai Nama Tak Lagi Terucap

Sampai Nama Tak Lagi Terucap

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 21, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Adra tidak pernah berniat untuk menjalin kedekatan dengan siapa pun di rumah sakit itu-hingga ia bertemu dengan Naya, gadis yang meskipun tubuhnya perlahan menyerah, masih mampu menciptakan tawa. Setiap hari, mereka duduk di bangku yang sama: Adra dengan tangan terbalut perban, sementara Naya dengan infus terpasang di lengannya. Tiada janji yang diucapkan. Tak ada harapan yang berlebihan. Hanya percakapan sederhana, tawa yang lembut, dan tatapan yang menciptakan pengertian tanpa kata. Namun, waktu tak pernah berpihak pada siapa pun. Terkadang, cinta pun datang terlambat. Ini adalah kisah tentang kehilangan, tentang hal-hal yang tak terungkapkan, dan bagaimana sebuah pertemuan singkat dapat mengubah segalanya.
All Rights Reserved
#82
teendrama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • HEART FOR NAYLA (TERBIT CETAK)
  • KEISTIMEWAAN ADEL (SELESAI)
  • Pulang Tanpa Kembali
  • Felicia> Januari With You
  • ARIEANNA
  • Second Love : Aku atau Masa Lalumu!
  • Dokter Muda Genius
  • 9 Eternity || SEGERA TERBIT
  • "Hidup di Tengah Kehancuran"

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines