ANHEDONIA (On Going)

ANHEDONIA (On Going)

  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Mon, Jul 14, 2025
Rasa sakit dan kecewa mana lagi yang belum Mentari rasakan? Luka karena Keluarga yang membuatnya hidup berdampingan dengan Trauma dan Pertanyaan-pertanyaan yang entah ada atau tidak ada jawabannya. Rasa ketidakadilan yang selalu ia terima membuatnya selalu ingin lari menjauh dari Rumahnya sendiri. Rasa sakit karena ketidakjelasan, kebohongan dan kegagalan dalam hubungan percintaannya, membuat ia selalu berpikir bahwa ini adalah Karma yang harus ia terima atas perbuatan Ayah dan Ibunya di masalalu begitu juga dengan penyakit yang ia derita. "Sebenernya semua hal berat ini sebagai tanda cinta Allah buat gue atau karena dosa gue yang udah terlau banyak?" pikir Mentari. Meski begitu, Mentari masih memilih untuk terus hidup dan mencari potongan puzzle miliknya yang hilang untuk kemudian ia pasang walaupun ia harus berjalan dengan Raga yang jiwanya telah mati. Karena masih banyak hal membahagiakan yang bisa Mentari dapatkan, walaupun ia tak tahu bahagia yang ia dapatkan itu benar-benar nyata atau hanya awal dari luka baru yang akan tercipta untuknya. Ia akan terus hidup sampai ia mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selalu ia lontarkan pada dirinya sendiri, "Sebenarnya untuk apa tujuanmu hidup, Mentari?"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dia, Manusia Bernama "Lelaki"
  • Embrace again, Arnan
  • Aku yang tak dipercaya [END]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Cerita Tentang Kita
  • HOME FOR WOUNDS
  • Mentari Senja [End]
  • Silent Redemption

Dalam kehidupan ini kita tidak bisa menentukan pilihan akan terlahir dengan jenis kelamin apa. Tuhan, telah menegaskan bahwa Dia menganugerahkan tugas yang sama kepada setiap makhluknya, yaitu sebagai 'abdun dan kholifah fil ardh. Sebab tugas itulah kemudian kita sebagai manusia baik laki-laki maupun perempuan harus memperoleh akses yang sama dalam upaya mewujudkan tugas tersebut dengan baik. laki-laki dan perempuan bekerja sama, saling bermitra, saling mendukung dan bergaul dengan cara yang baik untuk bisa menggugurkan tanggung jawab tersebut dengan sempurna. Namun, pada kenyataannya stigma masyarakat masih mengantarkan perempuan pada wilayah terpinggirkan. Perempuan tidak diperkenankan membuat keputusannya sendiri. Lalu, laki-laki masih menjadi superior dan mendominasi dalam lingkungan tersebut. Segala kehendak lelaki harus diutamakan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang lolos dari hukuman dunia sebab dosa yang mereka lakukan. Mereka, masih dianggap baik dengan balutan superior dan kegagahan mereka. Dunia, masih sulit mengungkap itu semua. Sedang jika terjadi kesalahan yang disebabkan oleh keduanya, maka hanya perempuanlah yang menanggung dosa, sedang laki-laki, masih bisa melanjutkan hidup seperti tak terjadi apa-apa. Namun, kondisi dan situasi semacam itu tidak pernah disadari Rumania sampai suatu ketika dia tidak sengaja membaca sebuah buku pencerah dari semua yang dia alami kemudian lanjut pada beberapa buku berikutnya. Sejak saat itu dia menyadari bahwa lingkungannya sedang tidak baik-baik saja. Lingkungannya masih terlalu menafikkan dosa yang dilakukan oleh Dia, Manusia Bernama "Lelaki".

More details
WpActionLinkContent Guidelines