Ecosillia

Ecosillia

  • WpView
    Reads 15,405
  • WpVote
    Votes 101
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Apr 5, 2025
Dalam ruang sempit yang tak bertanya nama, malam menciptakan dirinya lewat bisikan yang tak boleh nyaring. Pantulan sunyi dari suara yang lirih, nyaris seperti angin yang malu menyingkap tirai. Hanya di antara dinding kecil itu, kata-kata bisa bernapas pelan, memeluk rahasia yang terlalu hangat untuk dibagi, terlalu dekat untuk diingkari. Dan waktu pun tak mencatat, sebab di sana, hanya ada gema... dari halusnya keinginan. Sehelai napas ditahan, bukan karena takut, tapi karena terlalu indah untuk dibiarkan pergi. Jemari menyentuh tak sengaja, atau mungkin sengaja terlalu pelan agar terasa lebih lama. Setiap detik menjadi relung, dan setiap relung adalah jejak dari sesuatu yang tak pernah dituliskan. Di balik pintu itu, tak ada dunia luar. Hanya detak yang disamarkan oleh suara air yang mengalir, dan mata yang tak bisa saling melepas. Rahasia itu, kini tinggal bayang. Tapi bayang pun tak pernah berdusta. Dan siapa pun yang mendekat ke tempat itu, akan merasakan sesuatu... yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dikenang dalam diam yang terlalu manis.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sin-yuka Imperio
  • Velmora Selphine
  • Antara Dendam dan Cinta
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • The Silence That Shaped Me
  • SMARA DIKTA

Kerajaan tempat kendali hanya sebuah ilusi. Di ruang istana yang dibangun dari bisikan dan hasrat tersembunyi, berdirilah sosok dengan tatapan tajam dan suara serendah desir bayangan. Perintah tak pernah datang lewat teriakan, melainkan lewat sentuhan yang tak terucapkan dan keheningan yang memaksa patuh. Di hadapan kekuasaan seperti itu, tubuh kan merunduk bukan karena kelemahan, melainkan karena sebuah pengakuan tak bersuara. Sebuah tunduk yang menyimpan rasa paling dalam rasa yang tak butuh nama, tak perlu alasan. Satu sentuhan di dagu, dan seluruh ruang seperti menahan napas. Detak tak lagi menurut, berdentum seperti berkhianat pada logika. Ucapan dibisikkan, dan hanya keheningan yang menyambut, namun gemetar tetap hadir tanpa diundang. Persetujuan tak pernah diucap, tapi selalu dijawab dengan kejujuran dari gerak paling sunyi disusul semburan kenikmatan dahsyat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines