Kata yang menunggu kau baca

Kata yang menunggu kau baca

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 6, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Di antara rak-rak buku yang diam, Sekar Ayudhia menemukan sepotong kalimat yang membuat detak jantungnya berhenti sejenak. Kutipan tanpa nama itu bukan hanya indah-ia hidup, menggema, dan terasa seperti ditulis khusus untuknya. Tanpa ia tahu, sang pemilik kata itu adalah Raka Dwijatmiko, mahasiswa sastra yang lebih suka berbicara lewat halaman buku daripada suara. Pertemuan mereka tak megah, tapi perlahan tumbuh menjadi kisah yang disulam oleh kata-kata. Dalam dunia yang ramai dan cepat, mereka memilih jalan sunyi: bertukar surat lewat buku perpustakaan, menulis dalam diksi klasik yang seolah menantang zaman. Cinta mereka tumbuh bukan dari sentuhan atau janji manis, melainkan dari larik-larik puisi yang diam-diam saling menunggu untuk dibaca. Namun hidup bukan lembaran novel yang selalu teratur. Ketika Raka harus pergi dan komunikasi terputus, Sekar dibiarkan bertanya-tanya apakah kata-kata itu memang nyata. Dalam rindu yang tak pernah diucapkan, mereka kembali menulis-bukan untuk saling menghubungi, melainkan untuk berharap karya mereka dibaca oleh satu sama lain. "Kata yang Menunggu Kau Baca" adalah kisah cinta dua insan yang tak terburu-buru untuk bersama, karena mereka percaya: cinta yang tumbuh perlahan adalah cinta yang bertahan lama, terutama jika ia hidup dalam kata.
All Rights Reserved
#16
sansekerta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Suara Dalam Aksara
  • The Last Birthday With You
  • DALAM DIAM ADA RASA
  • BAYANGAN HARAPAN [END]
  • Kala Cinta Bertumbuh dan Berlabuh [COMPLETED ✔️]
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • Dalam Rintik yang Sama
  • Dibalik JAS & DEBU

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines