Story cover for Eclipse  by Dearlathifah
Eclipse
  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 6
  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 6
Ongoing, First published Apr 07, 2025
Kota-kota besar hancur. Peradaban tumbang. Di luar sana, bangunan menjulang yang dulunya megah kini tinggal puing, tertelan akar-akar liar dan kabut pekat. Jalan-jalan yang dulu penuh tawa kini lengang, hanya diisi jeritan dari mulut-mulut busuk yang lapar daging.

Namun, di tengah kehancuran itu, ada satu tempat yang masih berdiri tegak. Sebuah negara terakhir. 

Negara itu dikelilingi parit raksasa, dalam dan luas, berisi air mengalir yang tak pernah berhenti. Didesain dengan sistem irigasi canggih, saluran air itu bukan hanya pertahanan fisik, tapi simbol peradaban yang bertahan. Gerbang utamanya tak pernah terbuka tanpa perintah. Dindingnya menjulang tinggi, senjata-senjata otomatis menempel di setiap sisi. Tidak ada celah. Tidak ada ampun.
All Rights Reserved
Sign up to add Eclipse to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
[END] Membuka Taman Es dan Salju di Padang Gurun yang Membara by lovely_chicken
12 parts Complete
Di akhir zaman, Yun Shen disiksa oleh rasa lapar hingga saat-saat terakhir. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ketika ia membuka matanya lagi, ia melihat tanah yang gersang dan terbakar. Dibandingkan dengan kekacauan di akhir zaman, tempat ini begitu gersang hingga membuat orang-orang putus asa. Yun Shen menendang tanah tanpa sehelai rumput pun dan mengumpat: "Tidak ada tempat bagi orang untuk tinggal di sini, kan?" [Ding, program Taman Gurun telah terpasang.] [Misi pemula: Harap konfirmasikan alamat pembangunan taman.] [Hadiah: Makanan gratis selama tiga hari.] Makanan gratis?! Setelah mendengar makanan gratis, Yun Shen langsung melompat dan menyingsingkan lengan bajunya untuk mulai bekerja. * Sebuah surga kecil muncul diam-diam di bumi yang panas. Awalnya, orang-orang mengira itu adalah wilayah pribadi seorang bos besar, tetapi mereka segera terkejut dengan pemandangan di depan mereka. Dipenuhi dengan udara dingin, tanaman halus, salju yang memikat... Ada lebih dari sekedar tanaman di sini! Tanaman hijau, segar, renyah, dan lembut! Dan semuanya diaspal dengan cara yang tidak manusiawi. Di kedalaman taman, ada roller coaster, kursi terbang, mobil bumper, dan bahkan dinding es yang bernyanyi, dan toko-toko ajaib yang tak terhitung jumlahnya. Para turis pun tertawa terbahak-bahak. "Ini surga! Ini keajaiban!" Para karyawan taman mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi, "Ya, tuan kita sangat kuat!" Ada rumor...
You may also like
Slide 1 of 9
GAIA : Last Hope cover
Indonesia Merdeka cover
Bumi Kelabu cover
Summoning Broken Garuda cover
Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi] cover
SENGSARA cover
[END] Membuka Taman Es dan Salju di Padang Gurun yang Membara cover
SISA cover
KATASTROFE cover

GAIA : Last Hope

22 parts Ongoing

Tahun 2099. Bumi sekarat. Langit bukan lagi biru, udara menghitam oleh polusi, dan lautan berubah jadi lumpur beracun. Umat manusia tidak lagi bertahan-mereka hanya menunda kepunahan. Di tengah reruntuhan dunia yang dikendalikan oleh rezim korup dan propaganda masif, satu harapan terakhir muncul: Project Gaia, sistem penyelamat lingkungan yang telah lama dikubur oleh pemerintah. Devano Magasky Darmawan, seorang jenius teknologi, memilih melawan. Dikhianati oleh masa lalu dan diburu oleh teman lamanya yang kini menjadi musuh, ia membentuk tim pemberontak dari beragam latar belakang: hacker, teknisi, sniper, mantan militer, ilmuwan, hingga informan bawah tanah. Bersama, mereka menyusun rencana paling mustahil-mengaktifkan Gaia dan menghidupkan kembali planet yang nyaris mati. Namun misi ini bukan sekadar soal mesin dan data. Ini adalah pertarungan moral dan identitas. Siapa yang layak dipercaya? Apa arti pengorbanan dalam dunia yang sudah rusak? Dan apakah dunia yang baru layak diperjuangkan, jika harus mengorbankan sisi manusiawi kita? Di balik aksi sabotase, infiltrasi, dan kejar-kejaran maut, ada pertanyaan yang terus menghantui mereka: Bisakah manusia ditebus? Ataukah kita hanya layak punah bersama bumi yang kita rusak?