Ini bukan diary yang isinya bunga-bunga.
Ini bukan catatan manis penuh cinta dan kata mutiara.
Ini diary yang isinya kadang nyentil, kadang nyakitin, kadang bikin ngakak sendiri.
Cerita semu, tapi semua lahir dari rasa yang nyata.
Tentang pernikahan yang gak selalu romantis.
Tentang mertua, anak tiri, ART, dan omongan tetangga.
Tentang jadi perempuan yang masih belajar nerima, tapi juga gak takut bersuara.
Gaya bahasanya? Kadang halus, kadang kasar.
Emosinya? Campur aduk, kayak hidup.
Kalau kamu pernah ngerasa sendiri dalam ramai, atau pernah marah sampai nulis surat cerai di kertas bekas-selamat, kamu gak sendirian. Diary Book ini ditulis bukan buat cari pembenaran, tapi buat jujur.
Karena hidup itu absurd, dan kadang cuma bisa dimengerti lewat tawa atau tulisan.
"Cerita semu, tapi luka dan tawanya asli."
"Diary ini gak minta dimengerti, cukup dibaca pakai hati."
"Karena waras itu mahal, dan curhat kadang jadi penyelamat."
Disclaimer :
Gue tahu, nggak semua orang bakal sepakat sama isi tulisan ini. Gak apa-apa. Karena ini bukan buku petunjuk hidup ideal, ini cuma catatan dari istri yang pengen tetap waras dalam dunia yang kadang maksa perempuan buat diem, nurut, dan senyum... bahkan saat hatinya sendiri lagi berdarah-darah.
Gue gak ngajarin istri buat ngelawan suami, gue ngajak istri buat gak ngelawan dirinya sendiri.
Kalau lo kebetulan punya definisi "istri sholehah" yang beda dari gue, santai aja. Gak usah panik. Karena definisi itu emang berkembang-seiring akal, pengalaman, dan luka yang gak semua orang bisa lihat.
Menjelang enam tahun usia pernikahan ternyata tidak menjamin aku bisa memahami karakter seorang perempuan dalam diri istri. Terkadang, aku menyesalkan mengapa di buku nikah tidak disertakan panduan bagaimana suami memahami istri. Waktu beli alat elektronik saja pasti dikasih buku panduan penggunaan. Jadi kalau ada masalah pada alat tersebut, ya tinggal baca buku panduan, ikuti petunjuk, beres. Sedangkan di buku nikah tak ada arahan serupa. Padahal dunia pernikahan nyatanya lebih rumit dari sekedar mengoperasikan alat elektronik. Sebab istri merupakan mahkluk antik. Susah dimengerti tapi selalu ingin dimengerti. Bahkan di beberapa hal, percakapan yang awalnya normal saja, bisa menjadi sensitif dan membuat ia ngambek tak karuan.
Seperti beberapa hari sebelum lebaran tiba, ketika aku mendapat pesan WA dari wakil kepala sekolah, yang kebetulan seorang perempuan.
"Dari siapa, Bang?" tanya istri.
"Dari Bu Bunga (bukan nama ilmiah), aku diminta ambil parcel lebaran di sekolah. Katanya ada tambahan uang juga khusus buat guru honorer. Bu Bunga emang baik, dia yang ngusulin ke yayasan agar guru honorer juga dapat Tunjangan Hari Raya."
Lantas istri kembali bertanya, "Bu Bunga itu yang mana, Bang?"
"Masa' ndak inget, Neng? Waktu Ayas opname tahun lalu beliau njengukin di rumah sakit. Bu Bunga pakai baju hitam kerudung putih," ucapku.
Tanpa disangka istri langsung manyun, "Duh, kayaknya spesial banget Bu Bunga di pikiran Abang. Sampai baju yang dipakai setahun lalu pun diingat."
Loh, kok jadi kayak gini? Ucapku dalam hati.
"Iya, kan? Orangnya spesial kan di mata Abang?"
"Ya Allah, ndak gitu, Neng."