Bulan Penuh di Negeri Orang

Bulan Penuh di Negeri Orang

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 7, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Di malam paling sepi, saat bulan penuh menggantung di langit asing ini... aku ingat rumah. Tapi juga, aku sadar... ada yang perlahan mulai bertumbuh di sini. Meski aku nggak tahu, harus disiram atau dibiarkan layu. Di negeri orang, yang akrab hanya bayang-bayang sendiri. Dan bulan, anehnya, tetap bersinar penuh. Sama seperti di rumah. Tapi rasanya tidak lagi sama. Aku datang ke sini untuk bertahan, bukan untuk mencari apa-apa. Tapi hidup tidak pernah sekadar tentang rencana.
All Rights Reserved
#224
seoul
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Growing
  • When Tinkerbell meets Howl | Johnten (Ongoing)
  • I'am you 『Chaelix』✔✔
  • (END) Star at Seoul
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Do you have a mission to save me?  (Tidak Di Lanjutkan Sementara)
  • Cinta Tidak Masuk Dalam Daftar Menu

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines