Bagi Hanbin, Allin adalah tempat pulang yang tak pernah ia miliki secara resmi. Ia menyukai caranya Allin hadir tanpa diminta, dan benci pada dirinya sendiri karena tak berani meminta lebih. Baginya, cukup melihat Allin tertawa, meski tawa itu bukan selalu untuknya. Sebab ia tahu, memberi label pada hubungan mereka berarti membuka peluang untuk kehilangan-dan Hanbin lebih memilih menyimpannya begini, utuh tapi tak bernama. Bagi Allin, Hanbin adalah satu-satunya yang ia biarkan melihat sisi rapuhnya. Ia suka cara Hanbin memenuhi tangki cintanya. Tapi ia menolak menyebut itu cinta. Karena cinta berarti risiko-resiko terus menarik orang berharga itu ke dalam dunianya yang rusak. Sehari semalam mereka bersama-hanya mereka berdua-membuat batas tipis antara "kita" dan "bukan kita" mulai kabur. Dan saat pulang, keduanya terjebak pada pertanyaan yang sama: apakah mereka bisa terus selamanya berpura-pura? -an eternity in silence
Detail lengkap