Die Obrigkeit

Die Obrigkeit

  • WpView
    LECTURAS 16
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, abr 10, 2025
WpInfo
Ficción
Ciencia Ficción
Tentang Mereka yang membungkam Di singgasana yang megah, ia bertakhta, bukan sebagai gembala yang mengayomi, melainkan sebagai serigala berbulu domba. Kata-katanya adalah titah yang tak terbantah, bagai halilintar yang memecah kesunyian dan menenggelamkan bisikan nurani. Senyumnya, seulas rembulan yang dingin, menyembunyikan bara tirani yang membakar kebebasan. Di matanya yang kelam, terpantul bayangan rakyat yang terbungkam, jiwa-jiwa yang merindukan mentari kemerdekaan namun terperangkap dalam labirin ketakutan yang ia ciptakan. Ia adalah simfoni kepalsuan yang dimainkan di atas penderitaan, melukis sejarah dengan tinta air mata dan darah, seorang penguasa yang mabuk akan kuasanya sendiri, hingga lupa bahwa takhta setinggi apapun akan runtuh oleh hembusan angin perubahan. Cerita ini mengisahkan kehidupan keluarga aktivis HAM Bukan untuk para pembaca yang menginginkan cerita singkat dan alur menarik🔞 MASIH PEMULA TYPO BERTEBARAN SELAMAT MEMBACA
Todos los derechos reservados
#23
korupsi
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Syal Merah
  • The Ice [TAMAT]
  • MIRROR DEVIL
  • KEPRIBADIAN ZEANA (Revisi)
  • Waktu Awan dan Rembulan
  • ✵TRANSMIGRASI WILLIAM✵✓
  • Poison Of Love
  • Night Start's [On Going]

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido