lengkap bukan berarti cemara

lengkap bukan berarti cemara

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Stemmen 4
  • WpPart
    Delen 1
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd woe, apr. 9, 2025
WpInfo
Non-Fictie
Tidak semua yang terlihat lengkap itu bahagia. Aku adalah anak terakhir dalam keluarga yang katanya utuh, tapi tak pernah benar-benar hangat. Dari luar, semua tampak harmonis. Tapi di dalam... penuh bentakan, dingin, dan luka yang gak pernah kelihatan. Cerita ini memang dibungkus dengan fiksi, tapi rasanya nyata. Karena sebagian besar berasal dari kehidupan yang sebenarnya-tentang menjadi harapan terakhir, tapi gak pernah dikasih semangat. "Lengkap Bukan Berarti Cemara" adalah cerita tentang anak yang berjuang menemukan arti rumah, meski harus berdiri sendirian di tengah badai yang gak pernah berhenti. Kalau lo pernah ngerasa sendirian walau dikelilingi orang-orang, mungkin cerita ini bisa jadi suara yang lo cari.
Alle rechten voorbehouden
#372
kesepian
WpChevronRight
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • KETIKA LABEL TIDAK LAGI MENENTUKAN SIAPA KITA
  •  a girl's secret
  • NOESIS [END]
  • tak dianggap keluarga
  • Shattered Soul
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • Hujan Yang Tak Pernah Reda (HIATUS)
  • Gadis Populer & bodyguardnya
  • SMARA DIKTA
  • Dalam Dekapan Malam

Aline tak pernah meminta untuk dilabeli-sebagai anak pemarah, pembawa sial, atau anak dari keluarga rusak. Tapi itulah dunia: cepat menilai, lambat memahami. Di sebuah kampung kecil, Aline tumbuh dengan luka-luka tak kasat mata, dibisikkan oleh mulut-mulut tetangga, bahkan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. Hingga ia bertemu dengan pintu-pintu dan jendela baru-sahabat, seorang imam, dan Nando, lelaki yang melihatnya dengan mata yang berbeda. Ini adalah kisah tentang perjuangan untuk membuka jendela hati, memecahkan cermin luka, dan menemukan pintu menuju penerimaan. Bukan hanya oleh orang lain, tapi oleh diri sendiri. Sebuah novel reflektif yang mengajak kita bertanya ulang: Siapa diriku, jika label tak lagi melekat padaku? Cocok untuk kamu yang sedang mencari makna, harapan, dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu..... selamat membaca (:

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen