Between the Lines

Between the Lines

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 31, 2025
Ia tidak pernah benar-benar jadi pusat cerita. Hanya seseorang yang lewat di halaman orang lain, lalu diam-diam tenggelam di bab miliknya sendiri. Pagi-pagi yang tenang. Busway yang sama. Toko buku kecil di ujung kota. Dan hari-hari yang berjalan seperti kalimat-kalimat biasa. Hingga satu pertemuan-yang terlihat sepele-membuka kembali halaman lama yang pernah ia lipat dan sembunyikan. Tentang masa lalu. Tentang luka yang tak pernah selesai ditulis. Dan tentang dirinya, yang selama ini hanya membaca cerita orang lain, tapi lupa menuliskan kisahnya sendiri. "Karena di antara spasi dan jeda, ada kisah yang menunggu untuk dimengerti. Dan terkadang, yang terpenting bukan yang paling keras terdengar, tapi yang tersembunyi, di antara baris-barisnya."
All Rights Reserved
#46
traumahealing
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • You're Here, But Not For Me
  • A Dying Butterfly [SEGERA TERBIT]
  • lovestruck [HIATUS]
  • ELGITA  (TERBIT)
  • Bunuh Saja Aku Tuhan
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines