Daftar Rencana

Daftar Rencana

  • WpView
    Reads 447
  • WpVote
    Votes 73
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 15, 2026
"Frung!" suara Kael terdengar dari luar kamar, tegas namun santai. Dengan langkah berat, Frung menyeret kakinya menuju pintu dan membukanya. Raut wajahnya jelas menunjukkan frustasi yang tak lagi bisa disembunyikan. "Apa?" tanyanya ketus, menatap Kael yang berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis. Kael menatap adiknya sebentar, lalu berkata ringan, "Abang nitip Ssongjet di kamar kamu, ya." Satu kalimat. Hanya satu kalimat, namun cukup untuk membuat mata Frung membulat sempurna. Apa yang dimaksud Kakaknya? Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi hari itu, berbagi kamar dengan Ssongjet, calon kakak ipar yang paling menyebalkan jelas bukan satu di antaranya. Atau bahkan hal itu masuk kedalam daftar mimpi buruk baginya. Kael seharusnya tahu kalau dia dan Ssongjet ibarat kucing dan anjing. Tidak pernah akur dan selalu saling menyindir. Tapi entah apa yang ada di pikiran kakaknya saat ini. Dengan santainya, dia menitipkan Ssongjet ke kamar Frung, seolah dua musuh bebuyutan itu akan saling membacakan puisi sebelum tidur. Dan yang paling Frung sayangkan adalah diamnya Ssongjet saat tau dia akan satu kamar dengannya! Apa yang Ssongjet pikirkan, seharusnya dia juga ikut menolak BUKAN MALAH DIAM!
All Rights Reserved
#227
lesbian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • It's Always Been You✔️
  • ARGA [REVISI]
  • Still You (Completed)
  • Perihal Sandwich(End)
  • HEY!! MR. COOL?! [END]
  • Hope is a dream that is doesn't sleep
  • Brothers
  • Wrong Dream
  • JASA [TAMAT]
  • Caramel

Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines