3S : SUKA SAMPAI SAH (On Going)

3S : SUKA SAMPAI SAH (On Going)

  • WpView
    Reads 58
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 9, 2025
Aku masih ingat hari itu-saat pertama kali aku melihatnya. Dia berjalan melewatiku dengan tawa yang memecah sunyi, seperti sinar matahari menembus kabut pagi. Aku, seorang gadis yang hanya berani mencuri pandang dari balik keramaian, tak pernah berpikir akan punya keberanian untuk bicara, apalagi bermimpi lebih jauh. Dia adalah mimpi yang terlalu indah untuk kugapai, sementara aku hanyalah penonton dari kejauhan. Tapi takdir memiliki caranya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, di tengah hidup yang terus berjalan tanpa henti, aku berdiri di depan cermin mengenakan gaun putih sederhana. Hatiku berdebar saat pintu kamar terbuka, dan dia masuk dengan senyuman yang selalu berhasil membuatku lupa bernapas. "Siap, fit?" tanyanya ringan, seolah semua ini adalah hal yang biasa. Tapi tidak bagiku. Tidak ketika pria yang dulu hanya bisa kutatap dari jauh kini berdiri di sampingku, menggenggam tanganku, dan bersiap mengucapkan janji seumur hidup. Tak pernah terbayang, bahwa dia, yang dulu hanya sebuah mimpi, kini menjadi kenyataan dalam hidupku.
All Rights Reserved
#230
fitri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • Kuas,Cat dan Cinta
  • Felicity [On Going]
  • Long Our Love
  • Berharap Denganmu
  • Langit dan Cahayanya
  • Dari Nadya Menjadi Salsa Bersama Aidyn
  • Different Page [Complete]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines