Rina : Sesudahnya

Rina : Sesudahnya

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 30, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
"Di mobil ini. Kamu peluk aku, cium aku... dan waktu itu aku diam aja. Kamu sentuh aku seakan-akan aku udah milikmu. Aku nggak bilang 'tidak', tapi aku juga nggak ngerti harus gimana. Aku percaya kamu... Aku pikir itu cinta." Suara Lia mulai bergetar. "Tapi setelahnya kamu pergi. Nggak ada penjelasan, nggak ada maaf. Kamu ninggalin aku sama rasa kotor yang bahkan aku nggak ngerti kenapa aku merasa kayak gitu." Air mata jatuh di pipinya, tapi Lia tak berusaha menyekanya. Ia membiarkannya mengalir, seperti luka yang akhirnya menemukan ruang untuk bicara. "Aku trauma, Leo... Bukan karena kamu nyakitin aku secara fisik. Tapi karena kamu bikin aku percaya. Kamu ambil sesuatu yang rapuh dariku, lalu pergi seolah-olah itu nggak penting."
All Rights Reserved
#305
karina
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Rindu
  • feelings of love
  • KIARA [END]
  • Semesta
  • Bad Scene
  • Second Chance(?)
  • GUILTY AS SIN
  • HAKANA (Boundaries Were Never Our Thing)

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines