Rintik Yang Menyalin Ingatan

Rintik Yang Menyalin Ingatan

  • WpView
    Reads 588
  • WpVote
    Votes 203
  • WpPart
    Parts 63
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 17, 2025
WpInfo
Fiction
Historical
16th Century
Raisa Marianne Lestari: Blauwe Maan "Aku tidak meniup lilin di usiaku yang ke delapan belas. Aku hanya membuka surat terakhir Ibu, dan di dalamnya, aku menemukan duniaku yang lama-dan mungkin, duniaku yang akan datang." "Langit malam ini retak lembut seperti kenangan yang berembun di kaca," tulisku dalam puisi. "Dan aku berdiri di antara rindu dan restu, membacamu dalam diam, sebab suaramu kini adalah gema dari cahaya bulan." Aku adalah gadis yang didoakan oleh perempuan yang tak pernah menginginkan dunia, hanya inginkan aku bertahan. Dan kini, aku bersinar. Bukan karena dunia menyinari. Tapi karena kehilangan telah mengajari, bagaimana menyala-dengan luka yang tak padam. "Aku adalah bulan biru milikmu, Ibu- yang bersinar bukan karena cahaya, tapi karena kehilangan." -Raisa Marianne Lestari, dari buku yang akan menuntunmu pulang.
All Rights Reserved
#63
pengasingan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • Hai, Kak! (END)
  • Alenara; Living in a Fairy Tale
  • Memories in Moon
  • Cinta Berbalut Puisi
  • New Possessive Family
  • LENGKARA
  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • BALADA KEHIDUPAN
  • NEVER CHANGE ME & YOU
  • Alkara ( Terbit)
  • Alamanda (Telah Terbit)
  • Raina Maramitha
  • Langkah (By Auzizahirah)
  • Become Baby Boy✓
  • 27 FEBRUARI
  • GRIZLEN {On Going}
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]

"Bunuh Saja Aku, Tuhan" Karya Kelvin A. Purnomo Bunuh Saja Aku, Tuhan bukan tentang kematian fisik. Ini adalah jeritan batin dari seseorang yang merasa hidupnya telah kehilangan makna, bukan karena ingin menyerah, tapi karena ia ingin mengakhiri bagian dari dirinya yang kalah, bagian yang takut, malu, atau merasa tak layak hidup. Ini adalah permintaan simbolik: "Bunuh bagian dari aku yang lemah, agar aku bisa membangun kembali versi diriku yang lebih jujur, lebih berani." Dalam cerita ini, Arka tidak sedang mencari jalan pintas. Ia justru sedang mencari cara untuk tetap hidup, meski dengan segala luka, kehilangan, dan kesalahan yang pernah ia buat. Dan saat ia hampir menyerah, yang ia minta dari Tuhan bukan akhir dari napas, tetapi kemampuan untuk memulai ulang. "Bunuh Saja Aku, Tuhan" bukan kisah tentang kematian, tapi tentang bertahan. Tentang keinginan untuk hidup meski tak selalu sanggup. Tentang seorang anak muda yang berusaha mengerti dunia, juga mengerti Tuhan yang kadang terasa terlalu diam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines