Suara lonceng sekolah menggema di seluruh penjuru bangunan tua itu. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas, tawa dan obrolan riuh mengisi udara. Tapi di sudut lorong lantai dua, Aleera Hafzeen berdiri sendiri, memeluk buku erat-erat di dadanya.
Dia bukan anak yang suka menarik perhatian. Tapi entah kenapa, diamnya justru sering mengundang tatapan.
"Aleera, ikut makan bareng, yuk!" tawar Maya, satu-satunya teman yang masih bertahan di sisinya.
Aleera tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan. "Lu duluan aja. Gua mau ke perpustakaan."
Maya ingin membujuk, tapi tatapan mata Aleera sore itu hampa dan penuh letih membuatnya mengurungkan niat.
Tak ada yang tahu, senyum Aleera hanya topeng.
Di balik tatapan lembutnya, ada luka yang tak pernah sembuh. Di rumah, dia hanyalah bayangan. Tak dianggap, tak didengar. Sejak ayahnya menikah lagi dan ibunya pergi entah ke mana, Aleera hidup seperti tak ada artinya. Kakak tirinya menganggap dia beban, sementara ayahnya... bahkan tak mengingat ulang tahunnya.
Sekolah adalah satu-satunya tempat di mana Aleera bisa bernapas. Tapi sampai kapan?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang