2 parts Ongoing Dua tahun sebelum kejatuhan Kesultanan Melaka ke tangan Portugis, suasana di dalam istana mulai terasa gelisah. Di tengah desas-desus pengkhianatan dan ancaman dari luar, seorang pemuda berdarah bangsawan, Hang Wira Perkasa, anak dari mantan hulubalang legendaris Megat Alang Perkasa, tumbuh dalam suasana yang dipenuhi semangat perjuangan dan keprihatinan atas nasib negeri.
Hang Wira tidak sendirian. Ia bersahabat dengan Awang Kelana, seorang anak pelaut Melayu yang tangkas dan penuh semangat, serta Alfonso De Alvarez, anak keturunan Portugis yang dibesarkan di tanah Melaka dan mulai menyadari bahwa bangsanya sendiri menyimpan ambisi kelam terhadap negeri tempat ia tumbuh.
Ketiganya membentuk ikatan persaudaraan yang tidak terikat oleh darah, tetapi oleh tanah dan cita-cita. Di bawah bimbingan Megat Alang Perkasa, mereka mulai dilatih ilmu bela diri dan persenjataan, baik senjata tradisional maupun senjata api warisan zaman perang: terakol, istinggar, dan pemuras.
Namun bayang kejatuhan mulai membayang. Alfonso menemukan rencana penaklukan rahasia yang disusun oleh bangsanya. Dihadapkan pada pilihan antara darah dan tanah air tempatnya dibesarkan, ia memilih untuk memperingatkan sahabat-sahabatnya-membuat ketiganya harus kabur dari kota yang akan runtuh, membawa sebuah amanah rahasia dari Sultan yang tak sempat disampaikan.
Dengan kapal bernama Laksita Raja, mereka berlayar menembus Selat, menuju dunia yang lebih luas: Aceh, Palembang, hingga Jawa. Dalam pelarian itulah mereka benar-benar dilahirkan kembali sebagai pendekar, menghadapi persekongkolan lintas lautan, pertarungan antar saudara, dan rahasia pusaka yang mengandung kekuatan zaman silam.
Kini, mereka bukan sekadar remaja. Mereka adalah tiga serangkai pendekar. Dan cerita mereka adalah bayang dalam sejarah yang tak pernah ditulis.