Karsa (END)

Karsa (END)

  • WpView
    Reads 62
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 11, 2025
Ia tidak menangis karena satu luka besar. Ia hancur karena luka-luka kecil... yang dibiarkan terlalu lama. Ucapan yang menyakitkan, diam yang menyiksa, dan cinta yang tak pernah sungguh-sungguh tinggal. Karsa bukan kisah cinta. Ini adalah kisah tentang seseorang yang terlalu lama bertahan, demi pernikahan yang bahkan tak pernah benar-benar dijanjikan. Tentang perempuan yang belajar memeluk dirinya sendiri, setelah sekian lama berjuang untuk orang yang tak pernah ingin bertumbuh bersamanya. Ia tidak mencari simpati. Ia hanya ingin didengar- sebelum akhirnya memilih berpihak pada satu-satunya orang yang selalu ada... dirinya sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • The Bleeding Lady [completed]
  • Baskara
  • The Blooming Lady [completed]
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Masih Sama
  • Diary Raka [Selesai]
  • Cahaya Dari Luka
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines