Sil dan Dim
  • WpView
    Reads 71
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 12, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
(A L E R T). Para readers, yuk tinggalin jejak kalau kamu suka membaca cerita ini, dengan follow akun ini dan beri komen atau saran pada cerita Sil dan Dim. Agar writer semangat nulisnya dan melanjutkan keseruan cerita ini. Salam Literasi🌻 Update setiap Sabtu dan Minggu. ***** "Sil..." satu pesan singkat masuk malam itu diberanda ponsel milik Sila. Bisa ia baca pesan ini dari satu nama yang selalu ingin sila kirimi pesan tapi tidak pernah ada keberanian. "Besok kamu datang, kan? Di sidang kompre aku?". Tulisan dimas lewat pesan singkat berhasil membuat sila terdiam seolah mampu membaca perasaannya sejak hari ini. "Aku nggak bisa janji." "Tapi kali ini... aku ingin kamu datang. Bukan cuma ingin. Aku maksa." "Dimas..." "Harus bisa, Sil." "Kalau pun aku datang... aku nggak bawa apa-apa. Nggak ada hadiah." "Sila, yang paling penting cuma satu-kamu ada di sana. Hadiah terbaikku cuma itu." "...Oke. Aku datang." "Besok, aku berharap sekali. Kalau kamu nggak datang... mungkin Dimas bakal simpan kecewa itu selamanya." "Kenapa nadanya kayak ngancam, sih..." "Bukan ngancam. Cuma... aku mau ada satu momen kecil yang jadi milik kita. Sebelum semua berubah jadi kenangan." Malam itu, pesan Dimas masuk tepat pukul satu dini hari. Tidak ada nada bercanda, hanya ketulusan yang terasa lewat layar. Sila diam cukup lama sebelum membalasnya dengan satu emoji senyum. Langit di luar sedang jujur-penuh bintang dan udara yang pelan-pelan menusuk. Seperti hatinya.
All Rights Reserved
#29
quotesbaper
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RadenRatih
  • Because I'm Stupid (End)
  • Surat Untuk Andiny {TAMAT} ✓
  • NYAMAN [Proses Revisi]
  • BarraKilla
  • Bersamamu
  • mr.bean Ibrahim  End|

"Emangnya keluarga lo mau nerima lo lagi, hah? Nggak ada yang mau nerima lo lagi, Rat. Jadi, jangan sok deh lo itu. Cuma gue yang mau sama lo." 17+ #1 in general fiction (12/07) #4 in romance LENGKAP! FOLLOW AKUN INI SEBELUM MEMBACA AGAR TIDAK BINGUNG. Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA) Bagi Ratih, dia hanya butuh satu orang saja yang ada untuknya. Begitu pun bagi Raden. Mereka pikir, semua akan baik-baik saja asalkan mereka tetap bersama. Nyatanya, tidak. Apalagi Raden benar-benar mencari uang sendiri, dibuang sang papa, jauh dari sang mama. Emosinya yang masih belum terkontrol. Omongannya yang sering ceplas-ceplos dan menyakiti hati Ratih serta dia yang mudah simpati dengan orang lain yang mempunyai nasib sama seperti dia- menjadikan bumerang bagi dirinya sendiri. [Akan diupdate secepat yang penulis bisa agar cepat tamat] • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!

More details
WpActionLinkContent Guidelines