Story cover for Sil dan Dim by FadhillahSriWahyuni
Sil dan Dim
  • WpView
    Reads 70
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 70
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Apr 12, 2025
(A L E R T). Para readers, yuk tinggalin jejak kalau kamu suka membaca cerita ini, dengan follow akun ini dan beri komen atau saran pada cerita Sil dan Dim. Agar writer semangat nulisnya dan melanjutkan keseruan cerita ini. Salam Literasi🌻 Update setiap Sabtu dan Minggu.
*****

"Sil..." satu pesan singkat masuk malam itu diberanda ponsel milik Sila. Bisa ia baca pesan ini dari satu nama yang selalu ingin sila kirimi pesan tapi tidak pernah ada keberanian.

"Besok kamu datang, kan? Di sidang kompre aku?". Tulisan dimas lewat pesan singkat berhasil membuat sila terdiam seolah mampu membaca perasaannya sejak hari ini.

"Aku nggak bisa janji." 

"Tapi kali ini... aku ingin kamu datang. Bukan cuma ingin. Aku maksa."

"Dimas..."

"Harus bisa, Sil."

"Kalau pun aku datang... aku nggak bawa apa-apa. Nggak ada hadiah."

"Sila, yang paling penting cuma satu-kamu ada di sana. Hadiah terbaikku cuma itu."

"...Oke. Aku datang." 

"Besok, aku berharap sekali. Kalau kamu nggak datang... mungkin Dimas bakal simpan kecewa itu selamanya." 

"Kenapa nadanya kayak ngancam, sih..."

"Bukan ngancam. Cuma... aku mau ada satu momen kecil yang jadi milik kita. Sebelum semua berubah jadi kenangan."

Malam itu, pesan Dimas masuk tepat pukul satu dini hari. Tidak ada nada bercanda, hanya ketulusan yang terasa lewat layar.
Sila diam cukup lama sebelum membalasnya dengan satu emoji senyum.
Langit di luar sedang jujur-penuh bintang dan udara yang pelan-pelan menusuk.
Seperti hatinya.
All Rights Reserved
Sign up to add Sil dan Dim to your library and receive updates
or
#11quotesbaper
Content Guidelines
You may also like
BarraKilla by novaadhita
64 parts Complete
LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!
You may also like
Slide 1 of 7
BarraKilla cover
Because I'm Stupid (End) cover
Strong Girl Michella (END)  cover
ALSTARAN [END] cover
My Beloved Enemy [Segera Terbit] cover
Bersamamu cover
RadenRatih cover

BarraKilla

64 parts Complete

LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!