"Dulu, Rumah Itu Ada"

"Dulu, Rumah Itu Ada"

  • WpView
    Membaca 4
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Apr 13, 2025
“Dulu, Rumah Itu Ada” Pernah ada tawa di meja makan. Peluk diam-diam saat sakit. Suara ibu yang teriak dari dapur, dan suara ayah yang pulang bawa oleh-oleh murah tapi penuh makna. Pernah... Tapi semua itu kini hanya tinggal potongan-potongan kenangan yang mengendap di kepala Iky. Anak sulung dari lima bersaudara. Ia belajar kuat sebelum sempat rapuh. Ia memilih diam, saat hatinya sepi. Ia menunduk, bukan karena kalah… tapi karena terlalu sering kecewa. Ayah pergi. Ibu bertahan. Tapi yang paling sakit bukan perpisahan… Melainkan ketika kau masih tinggal di rumah yang sama, tapi merasa tak lagi punya tempat. Cerita ini bukan tentang luka yang disembuhkan, melainkan tentang luka yang dipeluk agar tidak semakin dalam. Tentang tangis yang ditelan dalam sepi, dan tentang kekuatan seorang anak yang berusaha tetap berdiri… meski tak ada yang menuntunnya. “Dulu, rumah itu ada. Tapi sekarang, rumah hanya jadi alamat. Tempat di mana tubuh bisa pulang, tapi hati memilih untuk pergi diam-diam.” ~iky
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Rasa Tanpa Kata
  • Daechan Wiramaja
  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • Juan [REVISI]
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Dibawah atap yang salah (hiatus)
  • Siblings✔

Pernahkah kamu merasakan sesuatu sampai tidak bisa berkata-kata? Sedih, senang, pilu, kecewa, ataupun sakit. Rasanya sangat teramat dalam hingga hanya hati yang bisa memaknainya, tanpa ucap, tanpa kata. Suatu ketika dalam benakku muncul pertanyaan. Mungkinkah dalam sebuah keramaian seorang anak manusia merasa sepi? Mungkinkan dari sebuah keceriaan terdapat goresan luka yang tak kunjung pulih? Atau mungkinkah dari raut wajah yang tersenyum terdapat tetesan air mata yang tak pernah kering? Jawabannya akan kita cari dan temukan bersama dalam buku ini. Mungkin atau tidak? Sepertinya di antara kita akan menemukan jawaban yang berbeda-beda. Tetapi yang pasti rasa akan selalu menjadi jawabannya. Sekarang, aku ingin mengajakmu untuk ikut berkelana ke dalam berbagai ruang rasa yang sempat aku masuki selama beberapa tahun terakhir ini. Semoga ruang-ruang ini dapat membuat kamu merasakan pengalaman yang sama dan dapat mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman tersebut. Semoga. Selamat memasuki ruang rasa 😊

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan