Di antara Kita yang Tak Pernah Ada

Di antara Kita yang Tak Pernah Ada

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 19, 2025
WpInfo
Non-Fiction
[BERDASARKAN KISAH NYATA - ON GOING] Aku selalu mengagumi Rama kakak tingkatku saat SMA. Entah sejak kapan tepatnya, tapi kepribadiannya yang tenang, kecerdasannya yang menonjol, dan sikapnya yang cool selalu menarik perhatianku. Meskipun kami hanya terpaut satu tahun, dia terasa seperti seseorang dari dunia yang berbeda. Kami tidak pernah banyak berinteraksi di SMA, hanya sebatas tahu dan mungkin saling melihat. Tapi entah kenapa, perasaanku perlahan tumbuh-diam-diam, dalam, dan tanpa suara. Saat takdir mempertemukan kami kembali di kampus yang sama, rasanya seperti semesta memberiku kesempatan kedua. Tidak ada yang berubah darinya-masih tenang, masih cuek, masih menjadi sosok yang membuat dadaku sesak tanpa alasan jelas. Kali ini kami mulai berteman, walau semuanya tetap terasa canggung. Aku terlalu pemalu untuk memulai apa pun, dan dia terlalu tenang untuk menyadari. Tapi rasa itu tak juga pudar. Justru tumbuh, menyusup ke sela hari-hariku tanpa permisi. Dan akhirnya, aku merasa sudah waktunya untuk jujur pada diri sendiri-dan padanya. Dengan hati yang penuh harap dan degup yang tak menentu, aku mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam. Aku selalu berpikir mungkin dia akan mengerti, mungkin ada sedikit saja harapan bahwa dia juga merasakan hal yang sama.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • ANNISA {ON GOING}
  • Kagum? (TAMAT)
  • Janji Biru dalam Mawar Biru
  • FIRST IMPRESSION
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)
  • PAPERFLAKES
  • ALEYA~~
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines