Wedangan Politik

Wedangan Politik

  • WpView
    Reads 2,294
  • WpVote
    Votes 182
  • WpPart
    Parts 51
WpMetadataReadComplete Thu, Apr 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Narendra Wicaksono, jurnalis politik yang "terpaksa" pulang ke Solo setelah empat tahun mengasingkan diri di Jakarta. Di tahun politik 2014, kepulangannya membuka kembali tiga luka yang belum sembuh: hubungan retak dengan ayahnya yang stroke, kematian kakaknya yang tak pernah dibicarakan, dan Sekar-cinta pertama yang kini menjadi tim sukses Jokowi. Di tengah hiruk pikuk Pemilu dan pencalonan Jokowi sebagai presiden, Narendra harus menavigasi labirin politik lokal Solo sekaligus menghadapi politik keluarganya sendiri. Dari meja-meja wedangan hingga ruang redaksi Solopos, dari gang-gang sempit Laweyan hingga pertemuan tertutup tim relawan di Loji Gandrung-setiap sudut kota membangkitkan memori dan memaksanya menghadapi masa lalu. "Wedangan Politik" adalah kisah tentang pulang, memaafkan, dan menemukan kembali makna rumah di tengah panasnya situasi politik Indonesia 2014. Karena terkadang, untuk maju ke depan, kita harus berani menatap apa yang kita tinggalkan di belakang.
All Rights Reserved
#277
romancedrama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tanah yang tak pernah diam
  • Setia Di Hati (Selesai)
  • Yang Menjadikannya Abu
  • COMEBACK MANTAN [TAMAT]
  • di bawah langit hindia
  • SASHI
  • Promise
  • Kemana Arah Pulang?
  • The Young Marriage [SALSHABILAADR & ALVAROMALDINI]

Di tanah yang disebut merdeka, sejarah sering kali dibungkam. Tanah yang Tak Pernah Diam mengangkat kisah yang tak tertulis dalam buku pelajaran-kisah luka, pengkhianatan, dan keberanian yang terkubur di balik bendera kebangsaan. Lewat mata Sena, seorang jurnalis muda yang tak sengaja menemukan arsip rahasia kolonial, kita dibawa menyusuri jejak para buruh paksa, perempuan yang diperdagangkan, dan anak-anak yang hilang di balik nama pembangunan. Bersama Raras, seorang dosen yang tak gentar melawan sistem narasi resmi, mereka menyingkap lapisan demi lapisan dusta yang telah diwariskan selama generasi. Di desa-desa sepi, di bawah akar-akar pohon tua, di catatan yang nyaris dibakar-mereka temukan suara-suara yang selama ini dipaksa diam. Dan suara-suara itu mulai bersatu, membentuk gelombang kebenaran yang tak bisa lagi dibendung. Ini bukan sekadar novel sejarah. Ini adalah seruan-bahwa bangsa yang besar bukan yang pura-pura lupa, tapi yang berani mengingat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines