Story cover for CLARA by mfahdann_
CLARA
  • WpView
    Reads 526
  • WpVote
    Votes 38
  • WpPart
    Parts 17
  • WpView
    Reads 526
  • WpVote
    Votes 38
  • WpPart
    Parts 17
Ongoing, First published Apr 14, 2025
Prolog - Clara

Ada nama yang masih kusebut diam-diam dalam doa.
Bukan karena aku belum bisa melupakan,
tapi karena aku belum benar-benar bisa mengikhlaskan.
Namanya Clara.

Dia bukan cinta pertama,
tapi dia yang membuatku yakin untuk berhenti mencari.
Dalam senyumnya, aku temukan pulang.
Dalam genggamannya, aku percayakan masa depan.
Tapi kadang, sekeras apapun kita ingin,
semesta tetap punya cara sendiri untuk mengakhiri.

Kami tidak berpisah karena berhenti mencinta.
Kami hanya kalah 
oleh keadaan yang tak berpihak,
oleh kenyataan yang lebih kejam dari rencana-rencana kecil kami.

Lucu, ya?
Cincin yang sempat kupilih dengan tangan gemetar itu,
kini hanya jadi kenangan diam dalam laci.
Ia tak pernah sampai ke jarimu,
karena kita terlalu sibuk meyakinkan orang lain,
hingga lupa menjaga apa yang sudah kita punya.

Clara,
kalau suatu hari kamu membaca ini,
aku ingin kamu tahu
aku tidak pernah menyalahkanmu.
Dan meski kini jalan kita tak lagi sama,
aku tetap mendoakanmu 
dengan cara paling sunyi, paling setia, dan paling patah.
All Rights Reserved
Sign up to add CLARA to your library and receive updates
or
#6142025
Content Guidelines
You may also like
You're Here, But Not For Me by MyMiela
8 parts Ongoing
Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.
You may also like
Slide 1 of 10
Asmara Jingga (Tamat) cover
You're Here, But Not For Me cover
Rendra & Lila [END] cover
Narasi patah hati cover
CLOSER cover
Ikhlasku Merelakanmu (END) cover
Look At Me!!!                                            [Follow Sblm Membaca❤] cover
[END] When the Stars are Tired cover
ELEGI ASMARA cover
Mengukir sukacita sesaat, lukacita selamanya cover

Asmara Jingga (Tamat)

29 parts Complete

Tidak peduli sebanyak apa pun usaha yang kukerahkan agar dicintai dan bisa diterima oleh keluarga maupun orang yang kukasihi, hanya berbuah pengkhianatan dan kepahitan. Bahkan hingga di ujung napas terakhirku, segalanya pun semakin jelas bahwa aku tidak pernah dijadikan sebagai salah satu bagian dalam kehidupan mereka. Kematian datang, menjemput, dan membawaku pergi. Namun, kematian pulalah yang memilih melemparku ke raga wanita bernama Asmara. Asmara tidak sepertiku. Dia memiliki orangtua pengasih dan seorang suami pilihan. Namun, baginya tidak ada yang lebih penting daripada mengakhiri hidup karena tidak bersama dengan pria pilihan hati. Tepat pada detik jiwa Asmara lenyap, aku pun menggantikan posisinya. Kesempatan hidup kali ini aku berjanji kepada diri sendiri akan mengutamakan kebahagiaan di atas apa pun! Akan tetapi, takdir tetap memaksaku bertemu dengan masa lalu. Menghadapi orang-orang yang menyebabkanku tewas.