CLARA
  • WpView
    Reads 566
  • WpVote
    Votes 38
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 20, 2025
Prolog - Clara Ada nama yang masih kusebut diam-diam dalam doa. Bukan karena aku belum bisa melupakan, tapi karena aku belum benar-benar bisa mengikhlaskan. Namanya Clara. Dia bukan cinta pertama, tapi dia yang membuatku yakin untuk berhenti mencari. Dalam senyumnya, aku temukan pulang. Dalam genggamannya, aku percayakan masa depan. Tapi kadang, sekeras apapun kita ingin, semesta tetap punya cara sendiri untuk mengakhiri. Kami tidak berpisah karena berhenti mencinta. Kami hanya kalah oleh keadaan yang tak berpihak, oleh kenyataan yang lebih kejam dari rencana-rencana kecil kami. Lucu, ya? Cincin yang sempat kupilih dengan tangan gemetar itu, kini hanya jadi kenangan diam dalam laci. Ia tak pernah sampai ke jarimu, karena kita terlalu sibuk meyakinkan orang lain, hingga lupa menjaga apa yang sudah kita punya. Clara, kalau suatu hari kamu membaca ini, aku ingin kamu tahu aku tidak pernah menyalahkanmu. Dan meski kini jalan kita tak lagi sama, aku tetap mendoakanmu dengan cara paling sunyi, paling setia, dan paling patah.
All Rights Reserved
#373
series
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Narasi patah hati
  • ELEGI ASMARA
  • You're Here, But Not For Me
  • Asmara Jingga (Tamat)
  • Look At Me!!!                                            [Follow Sblm Membaca❤]
  • As Time Allows
  • UNSPOKEN, YET ALWAYS FELT [ ROMANSA REMAJA ISLAMI ]
  • Mencintaimu Dalam Diam     (On Going)
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Mengukir sukacita sesaat, lukacita selamanya

Pernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan mencapai titik klimaks rasa kecewa di usia dua puluh dua. Sikap optimis yang mendarah daging dalam dirinya tak lagi bersisa selepas malam itu. Tak lagi ada setitikpun cahaya yang bisa ia lihat ketika bangun di pagi hari. Cintanya selama dua tahun kandas di saat mereka harusnya tengah berbahagia. Bagaimana bisa dunia sekejam itu padanya? Narasi-narasi patah hati berkumandang nyaring sekali, menyambut kegagalan akbarnya yang mematahkan hati ; sepatah-patahnya. Mahika hancur, lebur dalam keping-keping rasa sakit yang tiada henti menikam, meluluh-lantahkan sedikit harga diri yang ia genggam. Luka itu terlalu dalam hingga ia meragu ... bertanya-tanya diantara isak tangis yang ia untai di depan Tuhan yang maha kuasa. Pasca rasa sakit ini, apakah ia akan bisa kembali jadi Mahika seperti sebelumnya? Apakah akan ada masa dimana ia percaya lagi pada cinta? Dan apakah ada di luar sana, setidaknya satu saja ... satu saja manusia yang bisa ia genggam tangannya tanpa menyakiti ataupun mengkhianati? (PERHATIAN ‼️ BEBERAPA PART DALAM CERITA INI SUDAH DI HAPUS OLEH PENULIS DAN BISA DI BACA DI KARYAKARSA. TERIMAKASIH.)

More details
WpActionLinkContent Guidelines