Toxic Me

Toxic Me

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 16, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Otakku, entah kenapa seterusnya masih dihantui rasa bersalah. Tapi disisi lain aku juga ingin hidup sehidup-hidupnya. Aku lelah menjalani hidup dengan bayang-bayang lelaki paling sabar yang pernah aku kenal. Nizar. Yang aku lakukan kala itu, hanya menunggu pagi di malam yang rasanya sangat aneh tanpa notifikasi darinya. Selalu tidur larut malam dan bangun sebelum matahari menyapa, tidurku benar-benar tidak teratur. Berada di dalam kamar, lalu keluar ketika memang ada jam kuliah. Nizar benar-benar mengganggu seluruh isi otakku. Tapi, untuk kembali? Aku memilih tidak. Kubiarkan aku menikmati seluruh pikiran breksek tentang diriku. Dan, kubiarkan Nizar berjalan dijalannya tanpa bayang-bayangku.
All Rights Reserved
#692
romace
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Best Ending [ END ]
  • Blue Trapped In BL Novel
  • Boys Around Her (Telah Terbit)✔
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • Lady Antagonis (TAMAT)
  • Pretty Monster
  • EN-CIRCLE

"Dua tahun itu lama Hyung, ada 24 bulan, dan lebih dari 700 hari, apakah selama itu, hatinya tak pernah terbuka untukmu? Kau bodoh atau apa sih hyung?" Aku hanya diam menatap pria yang duduk di depanku. Wajahnya terlihat kesal karena sejak tadi aku hanya diam mendengar ocehannya. "Kau tak akan mengerti apa yang saat ini aku rasakan, sampai kau menemukan seseorang yang bisa membuat hatimu tak hanya bergetar, tapi juga membuat seluruh isi kepalamu ingin melakukan semua untuknya. Entah itu menyakitimu sendiri atau bahkan di luar nalarmu sebagai pria." "Kau bodoh! Logikamu kalah dengan perasaanmu. Kau biarkan perasaanmu mengambil alih semuanya. Ayolah hyung! Berhenti mengharapkan dia membalasmu, dengar! Aku bisa mencarikanmu ratusan perempuan yang lebih baik darinya. Jadi... Ceraikan dia hyung." Aku hanya menarik nafas panjang kemudian membuangnya dengan perlahan. Bukan tentang dia yang tak mencintaiku lalu dengan gampang aku katakan kita bercerai. Tidak! Sekalipun dia berteriak di depanku meminta cerai, aku tak akan melakukannya. Bukan karena aku bodoh, tapi karena janji yang sudah kuucapkan bukan hanya di hadapan Tuhan, tapi juga di hadapan kedua orang tuanya, bahwa aku hanya menikah sekali seumur hidupku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines