
Otakku, entah kenapa seterusnya masih dihantui rasa bersalah. Tapi disisi lain aku juga ingin hidup sehidup-hidupnya. Aku lelah menjalani hidup dengan bayang-bayang lelaki paling sabar yang pernah aku kenal. Nizar. Yang aku lakukan kala itu, hanya menunggu pagi di malam yang rasanya sangat aneh tanpa notifikasi darinya. Selalu tidur larut malam dan bangun sebelum matahari menyapa, tidurku benar-benar tidak teratur. Berada di dalam kamar, lalu keluar ketika memang ada jam kuliah. Nizar benar-benar mengganggu seluruh isi otakku. Tapi, untuk kembali? Aku memilih tidak. Kubiarkan aku menikmati seluruh pikiran breksek tentang diriku. Dan, kubiarkan Nizar berjalan dijalannya tanpa bayang-bayangku.Todos los derechos reservados
1 parte