We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Trauma Untuk Bermimpi

Trauma Untuk Bermimpi

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadComplete Mon, Apr 14, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Trauma untuk Bermimpi adalah kisah tentang luka yang begitu dalam hingga membuat seseorang berhenti berharap. Ini bukan hanya tentang kegagalan, tapi tentang bagaimana trauma bisa membekukan hidup seseorang. Aldo mewakili banyak orang yang merasa lelah, takut berharap, dan lebih memilih hidup seadanya karena takut jatuh. Namun cerita ini juga menunjukkan bahwa harapan tidak selalu harus datang dari keberhasilan besar. Kadang, keberanian untuk gagal lagi, untuk mencoba meski takut, adalah bentuk kekuatan yang paling nyata. Dalam luka, ada ruang untuk sembuh. Dalam kegagalan, ada kesempatan untuk tumbuh. Karena sejauh apa pun kita jatuh, selama kita masih bisa berdiri-kita masih bisa bermimpi.
All Rights Reserved
#320
mentalhealth
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Miracle of Survival [END]
  • Dream Come True [Completed]
  • Ketuk Pintu Dulu !
  • Letters for Self
  • My Second Life (Completed)
  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • Dirgantara [Terbit]
  • 7 DREAM [END]
  • Meneroka Jiwa 2

"Bahagia? Bahkan aku terlalu takut buat mikirin hari esok." Ucapannya lirih, tapi cukup menusuk di antara dinginnya malam. Matanya kosong, seolah raganya hadir di sana, tapi pikirannya tersesat entah ke mana. Sejak kecil, hidup tak pernah memberinya ruang untuk bernapas lega. Bahagia hanya terdengar indah di kepala orang lain, tapi tak pernah nyata dalam hidupnya. Terlalu banyak kehilangan, terlalu banyak luka, sampai ia kebal-bahkan pada harapan. Suara-suara yang tak bisa ia hentikan, bayangan-bayangan yang tak bisa ia usir; skizofrenia mengurungnya dalam dunia yang tak dipahami siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Hari esok? Baginya, lebih menakutkan dari hari ini. Karena esok hanya menuntut satu hal: "Masih kuat, nggak?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines