Abbiamo aggiornato le nostre Linee Guida sul Contenuto.
Consulta le linee guida più recenti per continuare a condividere storie in sicurezza.
di mana papi ku?

di mana papi ku?

  • WpView
    LETTURE 16
  • WpVote
    Voti 5
  • WpPart
    Parti 5
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione sab, dic 6, 2025
WpInfo
SAGGISTICA
MELAHIRKAN Di rumah sakit ada seorang wanita lagi melahirkan "Aaaaaa" Dokter"ayo bu dikit lagi" "Oek oek oek" Dokter"Alhamdulillah selamat y Bu anak nya kembar laki²" Rara dirgantara Alexander jhosoon Seorang wanita yang hidup sebatang kara suami nya hilang karena kecelakaan dan jatuh jurang Rara menangis haru melihat anak² nya "Andai kamu masih ada mas"membatin Dokter"sus mandikan bayi nya ya" Suster"baik dok" **** Dokter menaruh anak kembar itu di sebelah Rara setelah Rara di pindahkan di ruang VIP Rara melihat sendu anak nya "Mami janji akan membesarkan kalian dengan penuh kasih sayang dan mami akan berusaha yang terbaik buat kalian"
Tutti i diritti riservati
#112
mana
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Jejak wasiat kakakku
  • THE MAFIA BLACK ROSE ZOERCLE DIAMOND
  • OUR WORLD
  • KIARA [END]
  • DOKTER ITU SUAMIKU (On Going)
  • accident
  • Rahasia
  • STRONG MOM End ( Chasoo & Hunsoo )

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti