Isekai

Isekai

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureComplete Wed, Apr 16, 2025
IA menatap cermin persegi di dinding kamar mandinya. Dilihat dari posisi duduknya di atas toilet, sangatlah pas cermin itu menampilkan kepalanya hingga dada. Satu-satunya hal yang kerap mengusik pikirannya adalah perihal kematian. Lebih tepatnya mengenai ke mana ia akan kembali setelah dijemput ajal. Pikiran itu datang tanpa diundang semenjak pekerjaannya hilang. Suatu malam ia bermimpi didatangi sosok berpakaian serbahitam. "Pernah dengar istilah Isekai?" tanya sosok tersebut. Seketika ia merasa menemukan jalan keluar sekaligus disertai kebimbangan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terraciel World: Nyanyian Darah Tertua
  • Menjaga Monster
  • Antologi Cerpen 'Dunia Dalam Warna
  • Fragmen
  • Antologi Cerpen & Cerbung (Kumpulan Cerita Pendek)
  • The Dark Side(END)
  • Obliviora [HIATUS]
  • Kumpulan Cermin
  • Evanescent

Varie melangkah ragu menuju aula utama. Matanya menyapu deretan kursi bertingkat yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin ada ribuan, atau lebih. Belum pernah ia melihat aula sebesar ini. Jantungnya berdebar, antara gugup dan kagum. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Pandangannya menyapu ruangan dan terhenti pada sepasang mata biru yang begitu familiar. Pemuda itu, Kael. Sosok yang kini lebih dewasa, namun tetap dengan tatapan tajam yang tak pernah berubah. Varie menahan napas, matanya sejenak membeku. Tidak mungkin, Ini bukan kebetulan, kan? Tentu saja itu Kael, meskipun dia tampak jauh berbeda dari yang ia ingat. Kael melangkah pelan ke arahnya. Langkah-langkahnya tenang, terukur. Bukan terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Seolah jarak di antara mereka memang tinggal menunggu waktu untuk dijembatani. Kael berhenti tepat di hadapan Varie. Beberapa detik hanya diisi keheningan. Sorot matanya tetap tajam, tapi dalamnya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, rindu yang ditahan terlalu lama. "Varie." Suaranya pelan. Varie mengerjap pelan. "Kael" ujarnya, lebih kepada dirinya sendiri. Tubuhnya seolah butuh waktu untuk menerima kenyataan itu. Tatapan mereka bertemu. ----- Di antara konspirasi kekuasaan, sihir pemusnah, dan kebenaran yang terlupakan, mereka dihadapkan pada pilihan: Mengikuti jalan yang ditentukan atau Membentuk takdir baru bersama. Darah dan mesin. Jiwa dan sistem. Saat keduanya bersinggungan, dunia tak akan lagi sama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines