Laut Yang Menyimpan Namaku

Laut Yang Menyimpan Namaku

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 17, 2025
> Hujan turun pelan di sore itu. Dan seperti biasa, Freya duduk sendirian di pojok belakang taman sekolah. Buku catatan usang di pangkuannya, pena hitam yang hampir habis tintanya masih setia menari-menuliskan hal-hal yang tak pernah bisa ia ucapkan kepada siapa pun. Freya bukan anak yang keras kepala. Ia hanya terlalu terbiasa diam. Terlalu sering menyimpan hal-hal yang seharusnya bisa dibagi. Tapi bagaimana cara bercerita, kalau orang-orang di rumahnya lebih sibuk berteriak ketimbang mendengarkan? Ayahnya jarang pulang. Ibunya lelah sepanjang waktu. Dan rumah itu, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, tak lebih dari kotak penuh suara bentakan dan pintu yang dibanting. Maka Freya memilih untuk pergi-bukan dengan langkah, tapi dengan pikirannya. Ia tenggelam dalam kata-kata, dalam buku, dalam imajinasi tentang dunia yang lebih tenang dari kenyataan. Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah semua orang juga merasa sendirian seperti ini?" Tak ada jawaban. Kecuali seekor kucing putih yang selalu muncul setiap jam yang sama, setiap hari yang sama. Duduk di dekatnya, menatapnya, seolah berkata: "Aku mendengarmu." Dan mungkin... itu sudah cukup. *Cerita ini sebenarnya sudah selesai saya buat, tapi belum mau saya publis semua. Saya ingin melihat bagaimana respon pembaca terlebih dahulu
All Rights Reserved
#518
puitis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dua cangkir satu Meja
  • Eliinaa
  • AKSARA LARA(END)
  • LENATHAN (hiatus)
  • Maaf' (Revisi)
  • Arshaka Heizen Lergan
  • 48 FAMILY RESTAURANT ( JKT48 Gen 12 Fanfic)
  • A Silent Heartbeat

Dua cangkir di satu meja. Salah satunya kopi hitam yang mulai dingin, satunya lagi teh hangat yang baru diseduh. Sama seperti mereka-dua orang yang dulu satu keluarga, kini seperti orang asing di bawah atap yang sama. Dewa sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bisa makan mi instan kapan saja tanpa ada yang mengomentari. Bisa pulang larut tanpa ada yang menunggu. Bisa menjalani hari-harinya tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Lalu datang ayahnya, yang entah sejak kapan mulai mengatur ulang dunianya. Mengajaknya makan bersama, menyeduhkan teh di pagi hari, bahkan diam-diam mengganti mi instan dengan sesuatu yang lebih bergizi. Dewa tidak mengerti-apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya? Kenapa setelah tujuh tahun pergi, kini ia kembali dan bertingkah seolah-olah segalanya masih bisa diperbaiki? Di sisi lain, ada Nira, seseorang yang selalu ada untuknya. Tapi kini, ia merasa semakin jauh. Hubungan yang dulu terasa nyaman perlahan berubah menjadi sesuatu yang penuh pertanyaan. Di antara meja makan yang dulu selalu sepi, dua cangkir yang tak pernah sama, dan sepiring mi instan yang akhirnya tak lagi dimakan sendirian, Dewa harus menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: apa arti pulang yang sebenarnya? Slow fic Sudah selesai ditulis sampai ending, sudah dipublikasikan pula semuanya. Sebab, aku tidak suka menunggu. Jadi, aku tidak akan membuatmu menunggu. 48 bab secara total. Bacalah jika menurutmu layak dibaca, tinggalkan jika menurutmu membosankan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga. by Tigajully 2025

More details
WpActionLinkContent Guidelines