We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Laut Yang Menyimpan Namaku

Laut Yang Menyimpan Namaku

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 17, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
> Hujan turun pelan di sore itu. Dan seperti biasa, Freya duduk sendirian di pojok belakang taman sekolah. Buku catatan usang di pangkuannya, pena hitam yang hampir habis tintanya masih setia menari-menuliskan hal-hal yang tak pernah bisa ia ucapkan kepada siapa pun. Freya bukan anak yang keras kepala. Ia hanya terlalu terbiasa diam. Terlalu sering menyimpan hal-hal yang seharusnya bisa dibagi. Tapi bagaimana cara bercerita, kalau orang-orang di rumahnya lebih sibuk berteriak ketimbang mendengarkan? Ayahnya jarang pulang. Ibunya lelah sepanjang waktu. Dan rumah itu, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, tak lebih dari kotak penuh suara bentakan dan pintu yang dibanting. Maka Freya memilih untuk pergi-bukan dengan langkah, tapi dengan pikirannya. Ia tenggelam dalam kata-kata, dalam buku, dalam imajinasi tentang dunia yang lebih tenang dari kenyataan. Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah semua orang juga merasa sendirian seperti ini?" Tak ada jawaban. Kecuali seekor kucing putih yang selalu muncul setiap jam yang sama, setiap hari yang sama. Duduk di dekatnya, menatapnya, seolah berkata: "Aku mendengarmu." Dan mungkin... itu sudah cukup. *Cerita ini sebenarnya sudah selesai saya buat, tapi belum mau saya publis semua. Saya ingin melihat bagaimana respon pembaca terlebih dahulu
All Rights Reserved
#290
puitis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • Dua cangkir satu Meja
  • 48 FAMILY RESTAURANT ( JKT48 Gen 12 Fanfic)
  • Gadis Populer & bodyguardnya
  • ALEENA'S LIFE
  • Maaf' (Revisi)
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines