Pelukan Terakhir

Pelukan Terakhir

  • WpView
    Reads 350
  • WpVote
    Votes 90
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 6, 2025
Hidup itu tak pernah berjalan seperti apa yang kita rencanakan.Kadang kita dihadapkan pada kenyataan yang sulit diterima,rasa kehilangan yang tak tergantikan. Aku belajar itu setelah ayah pergi .Dia adalah sosok yang selalu ada ,yang menguatkan setiap langkahku. Ketika dia menghilang dalam sekejap, dunia yang aku kenal terasa runtuh. Namun, aku tau satu hal, bahwa meski ayah tak ada lagi ,aku harus terus berjalan.Cinta dan kenangan yang ditinggalkan oleh orang yang kita sayang akan selalu hidup di hati .Dan, meski berat,aku harus menerima kenyataan, bahwa setiap perpisahan memiliki pelukan terakhir. Namun, ditengah kepedihan itu ,aku menemukan bahwa ada cinta yang lain, cinta yang tumbuh dari hati yang ikhlas ,bisa memberikan cahaya baru dalam hidupku. Cinta itu datang meskipun aku tak tau cara menerimanya. Karna terkadang, untuk bisa bahagia ,kita harus berani untuk membuka hati lagi,meski dengan rasa takut akan kehilangan yang tak terelakan.
All Rights Reserved
#2
pelukanterakhir
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • peluk yang ku rindu
  • Flight
  • dear happiness
  • TRAUMA
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • My Dear Jannah
  • DILEMA CINTA [END] COMPLETED

Senyumnya terpatri di langit senja, suaranya lirih menyatu dengan angin yang menyapu dedaunan. Aku mencarinya dalam keheningan malam, dalam wangi tanah basah sehabis hujan seakan ia baru saja melangkah pergi, tetapi tak pernah kembali. Rumah yang dulu hangat menjadi sunyi. Aku mencarinya di antara lemari kayu tua, dalam lipatan kainnya yang masih menyimpan aroma kasih. Aku menelusuri jejaknya di dapur yang kini dingin, pada sendok yang tak lagi ia genggam. Kehilangan bukan sekedar tiadanya raga, tetapi kehampaan yang merayap di sudut-sudut hati. Namun, di antara air mata, aku belajar bahwa ia tak benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam setiap doa, dalam kehangatan yang di tinggalkannya, dan dalam hati yang terus menyebut namanya. Sebab yang benar-benar pergi hanyalah raga, sementara kasih sayangnya akan selalu abadi. DI LARANG PLAGIAT!!!!!❌❌❌ TYPO BERTEBARAN

More details
WpActionLinkContent Guidelines