Janji Yang Dibisikkan Sementara

Janji Yang Dibisikkan Sementara

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 31, 2025
Zahra tumbuh sebagai anak tunggal yang pendiam dan penyayang. Sejak kecil, ia sering merasa kesepian, namun semesta seakan tak ingin membuatnya merasa sendiri. Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan suara jangkrik saat malam, Zahra mengenal seorang anak laki-laki misterius. Mereka tak banyak bicara, namun kedekatan mereka tumbuh dari hal-hal kecil berbagi es lilin, mencari belut di selokan, dan duduk diam di bawah pohon jambu. Ia tak pernah tahu siapa anak itu sesungguhnya. Ia hanya muncul dalam potongan-potongan waktu, seperti angin yang datang tanpa aba-aba hangat, lalu menghilang. Tahun-tahun berlalu. Zahra tumbuh, membawa luka dan kekosongan yang tak bisa diisi siapa pun. Hingga suatu sore, dalam lelap yang begitu tenang, ia kembali bertemu anak itu dalam mimpi. Tapi kali ini dia bukan lagi anak kecil-dia lelaki dewasa yang dingin tapi lembut, tegap dan tenang. Dalam mimpi itu, dia bertanya pelan, "Kamu nggak mau punya adik lagi?" Sebuah pertanyaan sederhana yang membuka percakapan panjang, dan di ujungnya... janji. "Sekarang aku bakal penuhin kata-kataku. Aku bakal nikahin kamu." Zahra terbangun dengan dada berdebar. Ia sadar, lelaki itu tak ada dalam hidup nyatanya. Tapi hatinya mengingat segalanya dengan jelas. Apakah mimpi itu cuma bunga tidur? Atau semesta benar-benar membisikkan janji yang telah ditulis sejak dulu? Sebuah kisah tentang kenangan samar, cinta yang tak biasa, dan janji yang ditinggalkan mimpi, namun terasa lebih nyata dari kenyataan.
All Rights Reserved
#176
ceritacinta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PEREMPUAN YANG MENCINTAI HUJAN
  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Terlambat (End-Terbit)
  • NOESIS [END]
  • dimana janji tersebut
  • Not Me & Not Mine
  • AMERTA : The Last Embrace
  • Waktu Awan dan Rembulan
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]

Semua orang menunggu dengan dada berdegup kencang. Kabar yang berembus sejak semalam tentang badai yang mengamuk di tengah lautan, membuat masyarakat pesisir pantai dilanda kecemasan. Begitu juga dengan Sekar, anak perempuan Haji Zainal juragan kapal, dirundung kegelisahan. Ia tak bisa nyenyak tidur semalam, pikirannya terus saja melayang pada Azzam yang terombang-ambing di atas kapal. Saat mentari belum sepenuhnya terjaga, Sekar berlari menuju dermaga. Kakinya melangkah cepat. Gerimis dari sisa hujan semalam tak dihiraukannya. Panggilan Haji Zainal juga tak digubrisnya. Pelabuhan telah ramai orang menunggu dalam diam. Semua mata memandang ke arah lautan dengan tatap penuh pengharapan. "Cuaca sedang tidak bagus, Bang. Angin barat mulai datang." Sekar menjawab sambil merunduk saat Azzam berpamitan di halaman belakang. Azzam yang kala itu harus mengambil jaring di gudang belakang, tanpa sengaja bertemu dengan Sekar. "Doakan saja Abang, ya. Insya Allah tidak ada apapun yang akan terjadi." Suara Azzam bagai obat penenang bagi Sekar, gadis itu mengangguk perlahan. Ikhlas melepas kekasihnya pergi berlayar ke tengah lautan. Sekar sudah merapal doa sepanjang siang, bahkan hingga malam. Apalagi ketika hujan deras mulai turun disertai angin kencang, Sekar tak henti memutar biji tasbihnya, mendoakan sosok lelaki yang ia harap kelak menjadi imam dalam hidupnya. Sekar mengusap matanya yang basah. Matahari telah sepenuhnya menampakkan diri, membelai kulit Sekar yang mulai kemerahan. Banyak kapal yang sudah bersandar, tetapi kapal yang dinaiki Azzam belum keliatan ujung haluannya. Seseorang menepuk bahunya, ia menoleh. Haji Zainal telah berdiri di belakang Sekar menyusulnya. "Ayo, pulang, Nduk. Apa yang kau cemaskan?" Sekar tidak menjawab ajakan bapaknya, matanya tetap awas mengamati satu persatu perahu yang mulai menurunkan jangkarnya. Semua orang tersenyum penuh kelegaan, kecuali dirinya yang masih termangu di ujung dermaga menunggu kepulangan Azzam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines