Menuju Republik Yang Masuk Akal

Menuju Republik Yang Masuk Akal

  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 19, 2025
"Menuju Republik yang Masuk Akal" adalah seruan dari hati yang lelah. Ditulis oleh seorang pemuda yang lahir dari zaman yang penuh kontradiksi, buku ini menguliti kenyataan ideologi Indonesia yang kian jauh dari cita-cita awal para pendirinya. Dengan bahasa yang tajam, reflektif, dan penuh pertanyaan menyayat, buku ini menyuarakan keresahan tentang sebuah republik yang berjalan tanpa arah-dan menawarkan jalan pikir menuju kewarasan. Bukan untuk mereka yang puas dengan slogan. Ini untuk mereka yang masih berani berpikir. "Negara ini telah jauh dari apa yang dicita-citakan. Ia bukan lagi sebuah tempat yang memihak rakyat, tetapi sebuah entitas yang hanya melayani segelintir orang. Kita, rakyat, bukanlah pemilik negeri ini lagi." - Achmad Danny, Menuju Republik yang Masuk Akal (2025)
All Rights Reserved
#281
realita
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kisah Akala
  • Resonansi Tanpa Wujud
  • Exchange Souls With Villains
  • Bulan Merah Wilwatikta [TAMAT]
  • [Non Fiction] Menjadi Lebih Baik
  • Syal Merah
  • Shadows of the Main Story
  • ABERTUYAMAK
  • Tarikh Al-Tafkir: Asal muasal berfikir

Sederhana saja, ini bukan kisah pahlawan atau dongeng penuh bahagia. Ini tentang Akala Mannaf Kanagara-anak yang tak pernah diinginkan, hidup di rumah yang seharusnya jadi tempat pulang, tapi lebih sering terasa seperti penjara yang berwujud elegan. Ini tentang rasa yang harus abadi dalam bait aksara, tentang asmaraloka yang menjadi melankolia, dan tentang harsa yang harus menjadi lara. tentang Akala, yang hidup karena dunia belum memberinya pilihan untuk menyerah. "Mati. Aku hanya ingin mati!" Sebaris kalimat yang selalu di lontarkan dalam benaknya. . . . . . . . . . "Apa salah saya ma?" "Salah kamu karena telah lahir ke dunia ini" "Saya tidak pernah meminta di lahirkan, dan saya juga tidak pernah mau untuk di lahirkan. Bahkan kalian tidak pernah menganggap saya hadir di dunia ini" *** "saya suka sama kamu" "tapi kita beda keyakinan, kala" "saya tidak peduli, tuhan itu satu" "tuhan memang satu, kala. tapi, kita yang berbeda" *** "jangan pernah sakit lagi, kal. jangan tinggalin kita" "apa peduli lo semua?!" *** "lo sudah bahagia kan?" "bahagia lo membuat kita sadar kalau ternyata selama ini kita salah menyia-nyiakan sahabat sebaik lo" *** "selamat tidur, matahari ku" Copyright'' allovareyy_ 2023

More details
WpActionLinkContent Guidelines