BANJIR BANDANG, 2008

BANJIR BANDANG, 2008

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 21, 2025
Sore itu terlalu indah untuk berakhir buruk. Tawa anak-anak memenuhi gang kecil, aroma makanan rumah menyelimuti udara, dan langit-seolah mengizinkan semua orang percaya bahwa malam nanti akan baik-baik saja. Tapi mereka salah. Semuanya salah. Sebuah pohon beringin tua yang ditebang beberapa hari lalu ternyata bukan hanya batang kayu yang tumbang. Ia menyimpan sesuatu-entah kutukan, kemarahan, atau kesedihan yang tak terucap. Dan malam itu, air datang bukan sekadar membasahi tanah. Ia datang untuk mengambil, menenggelamkan, dan meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebelas nyawa tak kembali. Puluhan lainnya terjebak dalam ketakutan yang tak bisa diceritakan. Dan dari semua itu-delapan remaja menyaksikan malam yang dulu penuh cahaya berubah jadi gelap selamanya. "Adik! Pegangan tangan yang erat! Jangan sampai ada yang terlepas... jangan sampai ya!" Karena malam itu bukan hanya tentang air yang naik, tapi tentang hidup yang tak sempat mengucap salam perpisahan.
All Rights Reserved
#94
mingi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • NESTAPA [On Going]
  • La mia casa
  • yang tinggal cuma luka, yang pulih cuma rumah
  • Kutinggalkan dia karena Dia
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • Cawa
  • Kara: I Left God at The Door
  • Warna Langit (Blue Orangeade Sequel)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines