We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
BANJIR BANDANG, 2008

BANJIR BANDANG, 2008

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 21, 2025
WpInfo
Fanfic
ATEEZ
Sore itu terlalu indah untuk berakhir buruk. Tawa anak-anak memenuhi gang kecil, aroma makanan rumah menyelimuti udara, dan langit-seolah mengizinkan semua orang percaya bahwa malam nanti akan baik-baik saja. Tapi mereka salah. Semuanya salah. Sebuah pohon beringin tua yang ditebang beberapa hari lalu ternyata bukan hanya batang kayu yang tumbang. Ia menyimpan sesuatu-entah kutukan, kemarahan, atau kesedihan yang tak terucap. Dan malam itu, air datang bukan sekadar membasahi tanah. Ia datang untuk mengambil, menenggelamkan, dan meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebelas nyawa tak kembali. Puluhan lainnya terjebak dalam ketakutan yang tak bisa diceritakan. Dan dari semua itu-delapan remaja menyaksikan malam yang dulu penuh cahaya berubah jadi gelap selamanya. "Adik! Pegangan tangan yang erat! Jangan sampai ada yang terlepas... jangan sampai ya!" Karena malam itu bukan hanya tentang air yang naik, tapi tentang hidup yang tak sempat mengucap salam perpisahan.
All Rights Reserved
#119
mingi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Kutinggalkan dia karena Dia
  • Cawa
  • from heroes to Villains
  • NESTAPA [On Going]
  • Erlangga
  • La mia casa
  • Cerita yang Tak Selesai ✨💔🌙 || TAMAT
  • Warna Langit (Blue Orangeade Sequel)

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines