Tuhan, Jika Engkau Ada

Tuhan, Jika Engkau Ada

  • WpView
    Lecturas 15
  • WpVote
    Votos 5
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, abr 19, 2025
WpInfo
Poesía
"Tuhan, Jika Engkau Ada" adalah sebuah kumpulan puisi perenungan jiwa yang lahir dari kegelisahan spiritual, pencarian hakikat, dan pergulatan batin antara keimanan dan realita hidup. Buku ini tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi mengajak pembaca menyelami pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang Tuhan, dosa, cinta, kemerdekaan, dan makna keberadaan manusia. Setiap bait adalah jendela hati yang terbuka: terkadang penuh kemarahan, terkadang penuh cinta, kadang menyentuh langit keimanan, di waktu lain meraba dinding keraguan. Namun di balik semua itu, tersimpan satu benang merah: kerinduan akan Sang Pencipta, meski dalam bentuk yang tak selalu sesuai dengan syariat atau dogma. Puisi-puisi di dalam buku ini mengandung makna sufistik yang terselubung, dengan pendekatan yang relijius universal, tidak berpihak pada satu agama tetapi memuliakan pencarian spiritual dalam segala bentuknya. Ia tidak membenarkan pelanggaran, namun berani membuka ruang refleksi, bahwa jalan kembali selalu ada - bahkan dari lembah tergelap sekalipun.
Todos los derechos reservados
#11
spiritualjourney
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Senja di Bandung
  • The Last Captain
  • TINJU & TAUHID
  • Gus Abizar
  • Kumpulan Puisi Inspiratif
  • Quant (On Going)
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • ZEEDIEN  [End]
  • Hikayat : Tetes Embun Jatuh di atas Sajadah (Book)

Dalam sekejap mata, kehidupan Senja berubah total. Seorang pemuda yang tumbuh dalam kehangatan keluarga sederhana, Senja menikmati hari-harinya diiringi oleh puisi-puisi ayahnya yang penuh kebijaksanaan. Namun, ketika sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orang tua dan adiknya, Senja harus menatap kenyataan pahit: ia yang tersisa, terperangkap dalam kesedihan dan kekosongan yang mendalam. Terjerumus dalam trauma dan duka, Senja merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Namun, di tengah gelapnya penderitaan, ia mendengar bisikan tentang Bandung-kota yang dipercaya sebagai "diciptakan Tuhan saat Tuhan tersenyum." Dengan sisa keberanian yang tersisa, ia memutuskan meninggalkan masa lalunya dan memulai perjalanan menuju Bandung, berharap menemukan secercah harapan dan penyembuhan bagi jiwanya. Di Bandung, Senja menemukan dunia yang berbeda, di mana sejarah dan seni berpadu dalam setiap sudut kota. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu Arlana, seorang seniman jalanan dengan jiwa kritis yang mengerti bahasa keindahan dalam setiap goresan lukis dan nada gitar. Melalui pertemuan mereka, Senja mulai menulis kembali puisi-kata-kata yang dahulu menjadi warisan ayahnya. Setiap bait yang ia tulis adalah pengakuan atas luka yang dalam, sekaligus seruan untuk menemukan kembali arti hidup di balik kesedihan. "Senja di Bandung" adalah sebuah kisah yang mengangkat keindahan puisi sebagai penyembuh jiwa. Di antara deretan puisi yang mengalir, Senja dan Arlana menemukan bahwa setiap luka memiliki sajaknya sendiri, dan bahwa keindahan sering kali lahir dari penderitaan terdalam. Novel ini mengajak pembaca untuk merenungi bahwa meski hidup kerap dipenuhi kehilangan, dari kepedihan itu akan tumbuh harapan baru-sebuah perjalanan batin yang menuntun pada penerimaan diri dan keajaiban dari setiap kata yang terukir di dalam hati.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido