Sang Malam dan Lautan

Sang Malam dan Lautan

  • WpView
    Reads 849
  • WpVote
    Votes 94
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadComplete Sat, Jan 3, 2026
"Kau mengatakan penenang yang menembus jiwa ku, melepas diri ini dari gelapnya takdir...tapi dimana dirimu sekarang?Kembalilah wahai lautanku" -sang malam Dua insan yang selalu berbagi suka dan duka saling merengkuh dalam kehangatan memberi ruang untuk bercerita. "..aku benar-benar bodoh" Mata jelaga itu penuh dengan penyesalan, mimpi buruk menjadi temannya disetiap malam menjadi pengingat betapa bodoh dirinya. Menatap lurus ke arah laut sama seperti Kasihnya "Kumohon, Kembalilah kepelukanku.." *Cerita ini hanya hasil imajinasi saya sebagai fans ship MaiTake, semoga kalian menyukai buah pena saya. All characters of Tokyorevengers belong to Ken Wakui.
All Rights Reserved
#17
maitake
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • F.R.I.E.N.D.S ; The reason of parting (END)
  • Welcome home Takemichi (FuyuTake) || slight AllTake/TakeHarem AU
  • Pretended
  • siapa omega? siapa Beta? siapa alpha?
  • Your Smile is Only For Me (End)
  • Lily
  • PRETTY GIRL [ tokyorevengers x readers] End.
  • mikey x reader ( Stay Connected With You )
  • Fate-[Kokonui]

"Aku sangat mencintainya. Setiap malam aku selalu memikirkannya. Tapi apa dayaku? Di matanya aku hanyalah sahabat yang mungkin sudah dianggap seperti saudara sendiri. Kerap kali aku cemburu ketika dia bersama dengan wanita lain. Namun dia selalu tidak menganggap kegusaran hatiku. Membiarkan aku tenggelam dalam kepedihan, sendirian." "Dia cantik, sejak awal aku memandangnya telah ada rasa yang tak biasa. Matanya selalu mengundang getaran yang mendesirkan darah, mendebarkan jantung, hingga jari-jari bergetar hebat. Tapi rasa hanya sekadar rasa. Aku tak mampu untuk mengungkapkannya. Kedekatan kami tidak seromantis itu. Ada tembok besar berkedok persahabatan yang menghalangi hatiku untuk berbisik ke telinganya. Mungkin hingga kini dia pun hanya menganggapku tak lebih dari sekadar sahabatnya." "Biarlah aku diam, meski sebenarnya sangat ingin mengutarakan. Acapkali, menjadi pembohong itu perlu. Karena memang tidak semua kejujuran itu baik adanya. Mungkin selamanya hanya aku yang tahu tentang perasaan ini. Sudah tekadku. Demi kamu, demi dia. Demi kita."

More details
WpActionLinkContent Guidelines