Pulang
  • WpView
    LECTURES 225
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Chapitres 7
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., juil. 9, 2025
Terkadang, rumah bukan tempat untuk kembali-tapi luka yang belum sembuh. Tujuh bersaudara laki-laki, dipisahkan oleh takdir yang tak adil dan masa lalu yang enggan dilupakan. Setelah kematian sang ibu-satu-satunya alasan mereka masih saling menyapa-mereka dipaksa pulang ke rumah yang dulu pernah mereka tinggalkan. Bukan karena ingin, tapi karena janji terakhir ibu: "Kalau Ibu pergi, kalian harus kembali." Rumah itu tak berubah. Masih ada bau kenangan yang mengendap di setiap sudutnya. Tapi mereka... Sudah tak lagi sama. Ada yang pergi dan tak pernah benar-benar kembali. Ada yang memilih diam karena kata-katanya selalu disalahkan. Ada yang tumbuh dengan dendam, ada pula yang pura-pura kuat padahal hancur. Dan ada yang selama ini merasa tak pernah jadi bagian dari keluarga. Satu rumah. Tujuh hati yang saling asing. Dan satu pertanyaan yang menggantung di antara mereka: Masih pantaskah kita menyebut ini rumah?
Tous Droits Réservés
#841
saudara
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Bertumpu
  • Luka Naren. ( SUDAH TERBIT )
  • Your Home [COMPLETE]
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)
  • Eliinaa
  • I Will Change My Fate | By: soraya || Rora & Jungwon
  • Kemana Arah Pulang?
  • Pulang Tanpa Arah
  • BROKEN : The secret of life

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu