Pulang
  • WpView
    Reads 225
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 9, 2025
Terkadang, rumah bukan tempat untuk kembali-tapi luka yang belum sembuh. Tujuh bersaudara laki-laki, dipisahkan oleh takdir yang tak adil dan masa lalu yang enggan dilupakan. Setelah kematian sang ibu-satu-satunya alasan mereka masih saling menyapa-mereka dipaksa pulang ke rumah yang dulu pernah mereka tinggalkan. Bukan karena ingin, tapi karena janji terakhir ibu: "Kalau Ibu pergi, kalian harus kembali." Rumah itu tak berubah. Masih ada bau kenangan yang mengendap di setiap sudutnya. Tapi mereka... Sudah tak lagi sama. Ada yang pergi dan tak pernah benar-benar kembali. Ada yang memilih diam karena kata-katanya selalu disalahkan. Ada yang tumbuh dengan dendam, ada pula yang pura-pura kuat padahal hancur. Dan ada yang selama ini merasa tak pernah jadi bagian dari keluarga. Satu rumah. Tujuh hati yang saling asing. Dan satu pertanyaan yang menggantung di antara mereka: Masih pantaskah kita menyebut ini rumah?
All Rights Reserved
#164
1999
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • A R S E A N A
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)
  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Paradise
  • 𝐒𝐞𝐫𝐩𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐭𝐚𝐦𝐚𝐥𝐚│〚𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓〛
  • Luka Naren.
  • Cahaya Dari Luka
  • Bertumpu
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines