Di sebuah negeri kuno, para pendekar hebat bertarung bukan hanya dengan kekuatan, tapi juga dengan jiwa pedang yang ditempa oleh Pengerajin Agung. Cerita berfokus pada Arka, seorang pengerajin muda yang tanpa sengaja menempa pedang legendaris yang dapat memilih tuannya sendiri. Namun pedang itu justru menyatu dengan dirinya. Arka harus bertarung, belajar, dan melintasi negeri penuh konflik demi menemukan rahasia warisan darahnya-bahwa ia bukan hanya pengerajin biasa, tapi penerus klan pembuat pedang suci yang telah punah. Halaman 1: Desa Tempa Api Panel 1: Gambar: Sebuah desa di lembah pegunungan, asap mengepul dari bengkel-bengkel besi. Teks narasi: "Di lembah terdalam negeri Nirbara, suara palu lebih nyaring dari doa..." Panel 2: Gambar: Seorang pemuda berkeringat, memalu besi dengan wajah penuh tekad. Teks dialog (Arka): "Aku tak akan menempa untuk perang. Tapi untuk harapan." Panel 3: Gambar: Pedang separuh jadi di atas tungku menyala. Api menyala tidak biasa-berwarna biru lembut. Teks narasi: "Tapi api punya kehendaknya sendiri..." --- Halaman 2: Percikan Tak Biasa Panel 1: Gambar: Arka meneteskan darah di besi tanpa sengaja. Teks narasi: "Sedikit luka, namun cukup untuk membangkitkan sesuatu yang lama tidur." Panel 2: Gambar: Besi menyerap darah dan mulai bersinar samar. Teks dialog (Arka): "Apa ini...?" Panel 3: Gambar: Pedang melayang perlahan dari tempatnya, belum selesai, tapi hidup. Teks narasi: "Ia belum jadi. Tapi sudah sadar." Kutipan halaman: "Tak semua yang hidup harus bernapas. Ada yang cukup dengan luka."
Mais detalhes