Evelyn Ningtyas Sirait, seorang anak tunggal perempuan yang kini duduk di bangku SMA, merasa seperti hidup dalam bayang-bayang ejekan dan hinaan. Berat badannya yang berlebih menjadi sasaran empuk bagi teman-teman sekelasnya, tetangga, dan bahkan keluarganya sendiri. Mereka tidak melihat prestasi dan kebaikan yang dimiliki Evelyn, melainkan hanya melihat bentuk tubuhnya.
"Padahal kan aku juga ga minta di lahirin dengan fisik begini?" Evelyn sering berpikir demikian, sambil menahan air mata yang ingin mengalir. Ia merasa seperti tidak adil, mengapa orang-orang hanya melihat penampilan fisiknya dan tidak melihat siapa dirinya sebenarnya.
Setiap hari, Evelyn harus menghadapi ejekan dan hinaan yang menusuk hatinya. Ia merasa seperti tidak ada tempat untuk bersembunyi, tidak ada tempat untuk merasa aman. Ia hanya ingin diterima apa adanya, tanpa harus dihakimi berdasarkan penampilan fisiknya.
Evelyn mencoba untuk tidak memperdulikan kata-kata orang lain, tapi itu sangat sulit. Ia merasa seperti setiap kata ejekan dan hinaan itu terukir di hatinya, membuat ia merasa tidak cukup baik. Ia ingin menjadi lebih dari sekedar bentuk tubuhnya, ia ingin menjadi dirinya yang sebenarnya.
Tapi, sepertinya tidak ada yang peduli dengan perasaan Evelyn. Orang-orang hanya melihat penampilan fisiknya dan tidak melihat potensi dan kebaikan yang dimiliki Evelyn. Ia merasa seperti hidup dalam dunia yang tidak adil, di mana penampilan fisik lebih penting daripada kepribadian dan prestasi.
Evelyn hanya ingin seseorang yang dapat memahami perasaannya, seseorang yang dapat melihat dirinya apa adanya, tanpa harus dihakimi. Ia ingin merasa diterima dan dicintai, bukan karena penampilan fisiknya, tapi karena siapa dirinya sebenarnya. Tapi, apakah itu terlalu banyak meminta?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang