Terikat dalam Deja Vu

Terikat dalam Deja Vu

  • WpView
    Leituras 50
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Capítulos 5
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sáb, jul 26, 2025
WpInfo
Ficção
Romance
Seorang lelaki yang telah berpacaran selama empat tahun akhirnya mengetahui bahwa selama ini kekasihnya telah mengkhianatinya. Mereka pun putus. Lelaki itu mulai bertanya-tanya, apakah cinta itu benar-benar ada? Suatu hari, ia bertemu dengan seorang wanita yang terasa begitu familiar. Ia yakin belum pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya, namun anehnya, ia merasa memiliki banyak kenangan bersamanya.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Don't call it love!
  • Edge Of The Heart
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • DURI TERLINDUNG
  • Yang Tak Pernah Ada
  • Dicintai Ataupun Tidak, Aku Tetap Memilihmu
  • Derana Duka (lengkap) tidak terbit fisik/pdf
  • AFTER WEDDING - TERBIT

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo