A Line of Roses

A Line of Roses

  • WpView
    LECTURES 27
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 6
WpMetadataReadContenu pour adultesEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mar., avr. 22, 2025
In a distant land, beauty is not just a gift. It's a legacy-passed down through the daughters of Edevane. Mereka menyebutnya the blessing of the first empress, an honor bestowed to only one girl every few generations. Parasnya sempurna. Wajahnya sama. And when Seraphine is born, the blessing awakens once more... But blessings like these always come with a price.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Darah di Tahta Sunyi
  • "EGRES"
  • [END-TERBIT] REGINA: Don't Want to Die
  • When Destiny Weeps
  • Mahkota [The Circle Series #1]
  • She Is Railene [END]
  • SECRET 2 : DEBARANDIN
  • I Will Change My Destiny
  • KARNALOKA
  • BETWEEN

--- Prolog "Kerajaan ini tak dibangun di atas kebajikan-melainkan di atas bisikan malam dan darah yang mengering." Tidak ada yang tahu kapan tepatnya kegelapan itu datang. Mungkin ia lahir bersamaan dengan kelahiran sang Ratu-Eirwen, putri dari takhta dingin yang menjulang di utara. Wajahnya elok bak lukisan dewa, tapi matanya... menyimpan musim dingin yang tak pernah mencair. Konon, saat ia dinobatkan, langit tidak bersorak, melainkan mendung menggulung dan gagak-gagak berputar di atas istana. Orang-orang berseru dengan takzim, namun di dalam dada mereka, berkecamuk rasa takut yang tak mereka pahami. Eirwen tak mewarisi kerajaan-ia menaklukkannya. Dengan siasat, darah, dan kehendak besi. Ia tidak memimpin dengan kasih sayang, melainkan dengan sunyi yang mengintimidasi. Dan ketika musuh-musuhnya runtuh satu per satu, bukan kemenangan yang ia rasakan, tapi kehampaan yang terus menggerogoti jiwanya. Kini, bertahun telah berlalu. Kerajaan berdiri di atas tulang-tulang masa lalu. Dan di dalam istana batu yang membeku itu, sang Ratu duduk seorang diri... dikelilingi bisu, dikhianati bayang-bayangnya sendiri. Tapi ini bukan kisah tentang kebangkitan. Ini adalah kisah tentang kehilangan. Tentang bagaimana seorang ratu mengorbankan segalanya-hingga ia bahkan tak lagi memiliki dirinya sendiri. Dan ketika semuanya telah terbakar... Yang tersisa hanyalah keheningan yang menganga. ---

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu