My Beloved ART

My Beloved ART

  • WpView
    Reads 2,876
  • WpVote
    Votes 227
  • WpPart
    Parts 49
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 1, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Berprofesi menjadi asisten rumah tangga atau pembantu, siapa yang memimpikan itu? Adakah orang yang bercita-cita menjadi ART, ku rasa tidak ada. Meski ART bukan pekerjaan hina tetapi ART bukanlah pekerjaan impian yang membanggakan. Tapi gimana kalau majikannya punya anak yang ganteng, yang sudah dewasa tapi masih tinggal dirumah orang tuanya, yang baik dalam memperlakukan semua pekerja didalam rumah. Inilah kisah Eka Lisnawati yang terpaksa menjadi ART, bertemu dengan majikan yang baik beserta dua anak laki-lakinya yang tampan dan super perhatian.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hema Akasha.[Telah Terbit]
  • BIG BOSS 21+
  • Judul Standar - The Beautiful Roses
  • Perfect In Love
  • Mantanku Seorang CEO
  • Milk for Rayyan
  • (Not a) Real Maid (End)
  • JEBAKAN CEO NAKAL (21+)

(SETIAP BABNYA UDAH DI REVISI) Hema menikah dengan Akasha bukan karena ia mencintainya, tetapi karena rasa tanggung jawab yang mengikatnya pada keluarganya. Perekonomian keluarga yang semakin terpuruk,ayahnya yg jatuh sakit,kedua adiknya sedang bersekolah memaksa gadis itu untuk memilih jalan yang penuh pengorbanan. Akasha, yang dikenal dengan kekayaannya,pewaris keluarga harrington menikahi Hema bukan karena rasa cinta, tetapi karena terpaksa-sebuah pernikahan yang diperlukan agar ia bisa menjadi pewaris sah dari keluarganya dari perusahaan mereka harborstone estates dan itu hanya bisa ia warisi dengan ikatan jika Akasha segera menikah. Di bawah langit yang luas, di antara bentangan Akasha yang tak terbatas, mereka berdua berjalan menyusuri hidup yang penuh dengan maya-ilusi dan harapan kosong yang tak bisa mereka raih. Keduanya, terjebak dalam karma yang tak mereka pilih, menjalani takdir yang mereka rasa tak ada jalan untuk menghindarinya. Namun, di tengah perjalanan itu, apakah ada ruang untuk cinta yang sejati, atau hanya ruang kosong yang dipenuhi kepentingan dan keinginan yang tak pernah berujung?

More details
WpActionLinkContent Guidelines