Mikasa Ackerman.
Gadis cantik dengan rambut sebahu berwarna hitam legam, serupa malam tanpa bintang. Matanya gelap, dalam, dan misterius seolah menyimpan ribuan rahasia yang tak pernah terucap. Kulitnya putih pucat, kontras sempurna dengan rambut dan sorot matanya, membuatnya terlihat tak tersentuh. Ia pendiam, pemalu, namun bertanggung jawab dalam tindakan yang ia lakukan.
Satu nama selalu menjadi masalah terbesarnya-Eren Yeager.
Brandalan kelas. Anak laki-laki yang lebih sering terlihat tidur di pojok belakang daripada membuka buku pelajaran. Bolos adalah hobinya, dan tauran sudah seperti napas kedua baginya. Luka-luka di tangannya tak lagi mengejutkan siapa pun. Sikapnya kasar, cuek, dan nyaris tak pernah menunjukkan rasa hormat pada siapa pun. Tapi siapa yang berani memarahinya? Tidak ada. Karena Eren bukan siswa biasa.
Ayahnya-pemilik sekolah, adalah alasan mengapa Eren bisa melakukan apa pun tanpa konsekuensi.
Awalnya, Mikasa menganggap Eren sebagai sosok yang harus dihindari. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa membuka matanya-meluluhkan pandangan buruk yang selama ini ia percaya. Saat tanpa sengaja Mikasa melihat sisi lain dari lelaki itu. Sisi yang tidak kasar, tidak sinis, tidak berisik. Tapi... hangat.
Sejak saat itu, Mikasa perlahan mendekati Eren. Meski selalu ditolak, diusir, bahkan tak dianggap, ia tidak menyerah. Usahanya membuat semua orang heran-mengapa Mikasa? Mengapa gadis pendiam dan introvert itu bisa tertarik pada seorang berandalan?
Tapi hanya Mikasa yang tahu jawabannya.
Karena di balik luka dan kekacauan, Eren punya sisi yang tak pernah ditunjukkan pada siapa pun. Sisi yang membuat Mikasa merasa hidup. Merasa bebas.
Hari-hari Mikasa yang monoton berubah drastis. Ia melakukan hal-hal yang dulu tak pernah berani ia bayangkan. Bersama Eren, ia menemukan kebebasan, rasa takut, tawa, luka, dan-cinta.