Aku yang hampir menyerah

Aku yang hampir menyerah

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 1, 2025
helloo... sebelum dibaca, aku kasih tau dulu kalau ini bukan cerita yah, ini semacam puisi, atau emang puisi? yah terserah deh yang jelasnya ini bukan cerita kayak yang lain. kalian boleh baca kalau mau, cuma yah tergantung kalian suka atau tidaknya, soalnya aku nulis sesuai kemauan aku. gitu aja deh, terimakasih kalau mau dibaca yah, dan jangan lupa di vote dan komen.
All Rights Reserved
#16
puisiluka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • Semua Memukul (✅)
  • Rembulan Yang Sirna
  • poem
  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • My Wish

Aku tidak menulis ini untuk semua orang. Hanya untuk kamu- yang pernah merasa hilang, tapi bahkan tidak tahu ke mana harus pulang. 365 hari. 365 puisi. Tanpa jeda. Awalnya, ini hanya tentang menulis... lalu selesai. Tapi semakin jauh, aku mulai sadar- seperti ada sesuatu yang ikut menulis bersamaku. Sesuatu yang lebih jujur tentang luka daripada yang berani kita akui. Kalau kamu pernah: • tersenyum, tapi kosong • dikelilingi banyak orang, tapi tetap sendiri • atau hidup... tanpa benar-benar merasa hidup hati-hati. Buku ini bisa terasa terlalu dekat. Di dalamnya ada: luka yang tak sempat diberi nama, rindu yang kehilangan alamat, dan doa-doa yang hanya berani hidup dalam diam. Ini bukan sekadar tulisan. Ini jejak. Atau mungkin... pengakuan. Beberapa orang bilang, ada bagian yang terasa seperti ditulis khusus untuk mereka. Kebetulan? Atau... kamu yang memang sedang dipanggil? Mulai dari hari pertama. Kalau tidak ada yang kamu rasakan, kamu bebas pergi. Tapi kalau kamu memilih untuk tetap tinggal- bersiaplah. Karena mungkin, yang perlahan berubah bukan kata-katanya... melainkan kamu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines