Bersama Tak Bersatu

Bersama Tak Bersatu

  • WpView
    Membaca 40
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 17
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Mei 8, 2025
Perjalanan sepasang kekasih yang menelusuri jalan kehidupan yang rumit jika dilalui sendiri, tanpa mereka sadari, berjalan beriringan ternyata jauh lebih rumit karena arah dan tujuan mereka yang tak sama. DONE. 17 jalan yang dilalui April dan Nio selesai. Bukan karena sudah sampai tujuan, tapi karena mereka tidak punya tujuan. Ini adalah kisah nyata penulis yang sengaja penulis abadikan, karena bagi penulis ini adalah jalan dan pengalaman hidup yang sangat berkesan. Kisah April dan Nio akan selamanya abadi. Untuk Nio, kalo suatu saat kamu nemu/baca cerita ini, semoga kamu suka dan ga minta aku buat hapus cerita ini ya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#126
ceritaremaja
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Korban Ghosting
  • KITA BERBEDA (antara Aku, Kamu, dan Tuhan)
  • Langit dan Cahayanya
  • Nayanika
  • Under the Moonlight
  • Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream
  • Ketika Cinta Tak Lagi Gratis ❤️ ON GOING ❤️

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan