Volksmär

Volksmär

  • WpView
    Membaca 12
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Apr 24, 2025
Di kota yang jiwanya dicetak dari propaganda, seorang seniman menari dengan bayang-bayangnya sendiri. Karyanya berbisik dalam warna, menyusup di celah dinding kekuasaan, menantang dogma tanpa suara. Di satu sisi kanvas, ada kasih yang terlarang, terjalin dalam bisik lirih dan tatapan yang tak seharusnya saling sayang. Namun, di sisi lain, ada jejak-jejak yang mengarah ke ambang lenyap. Seorang lelaki dengan nama yang berubah-ubah. Seorang perempuan dengan hati yang terbelah. Dan satu takdir yang menunggu dalam sunyi-bak senja yang tak tahu apakah ia masih siang atau telah jatuh dalam malam.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • MR. MORGAN
  • The Ember Between Us. [TAMAT]
  • Suara Yang Tak Pernah Di Dengar
  • MATCH MADE IN HEAVEN 2 (SELESAI)
  • Langitara
  • Paper Hearts (Wattys2019 Winner)
  • Hues of You
  • Dalam Kepalanya yang Tak Pernah Hening

Seorang pelukis muda telah kehilangan sentuhan magisnya. Bukan karena ia kehabisan ide, melainkan karena ada sesuatu yang menguap dari dalam dirinya-sesuatu yang tak dapat ia jelaskan. Setiap kali tangannya menyentuh kanvas, hanya kekosongan yang muncul. Hingga suatu malam, ia menemukan sebuah surat misterius di dalam kamarnya. Tidak ada nama pengirim, hanya secarik kertas tua dengan satu kalimat yang membuat jantungnya berdegup kencang: Bagaimana mungkin seseorang melupakan wajahnya sendiri?" Sejak itu, segalanya berubah. Ia mulai melukis wajah asing yang tak ia kenali, namun terasa begitu akrab. Sosok itu tersenyum padanya dari atas kanvas-dan saat Edelweiss berkedip, mata dalam lukisan itu seolah ikut bergerak. Hari-harinya dipenuhi keanehan yang semakin menyesakkan dada. Kota yang ia kenal perlahan berubah; jalanan yang biasa ia lewati kini tak lagi sama. Orang-orang mulai berbisik di belakangnya, seakan mereka tahu sesuatu yang ia lupakan. Dan ketika ia menaiki bus terakhir malam itu, seorang pria yang duduk di sebelahnya menatapnya dengan senyum tipis dan berbisik pelan: "Darahmu memiliki aroma yang mereka inginkan." Dunia yang ia kenal retak dalam semalam. Edelweiss mendapati dirinya terseret ke dalam permainan yang lebih tua dari peradaban manusia-sebuah dunia di mana makhluk abadi mengawasi dari bayangan, di mana dewa-dewa lama belum sepenuhnya mati, dan di mana satu pertanyaan sederhana dapat menghancurkan batas antara kenyataan dan ilusi. Sekarang, Edelweiss harus menemukan jawaban. Bukan hanya tentang lukisan, surat misterius, atau makhluk yang memburunya dalam kegelapan. Tapi tentang dirinya sendiri. Sebelum sesuatu yang lain menemukannya lebih dulu.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan