Alam Melawan Masa Depan

Alam Melawan Masa Depan

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Tue, Apr 29, 2025
WpInfo
Fiction
Science Fiction
Alam mendapat sebuah undangan dari teman sekelasnya bernama Deva untuk menjadi member sebuah komunitas menulis dan diterima di sana. Dua bulan setelahnya, Alam mau tidak mau mengikuti sebuah kompetisi menulis setidaknya 20.000 yang harus diselesaikan dalam waktu 3 bulan. Setelah tidak kunjung mendapat ide, ia memutuskan bepergian menuju rumah sang nenek yang membuat Alam dipertemukan dengan seorang wanita dari masa depan. Wanita tersebut memberitahu kalau Alam akan gagal dalam kompetisi tersebut dan memberinya surat yang ditulis oleh dirinya sendiri dari masa depan. Setelah itu, Alam membuat janji pada dirinya dari masa depan untuk mengubah apa yang seharusnya ditakdirkan buruk tidak terjadi atau bahkan menjadi hal baik untuknya.
All Rights Reserved
#11
bpc
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • TERRA INPUT [tamat]
  • #1 The Prophecy: a different world
  • Lebih Baik, Ku Hidup Tanpa Cinta
  • Antara Masa Lalu dan Masa Depan
  • Sampai Kita Jadian - Love on Repeat
  • From Amaretto
  • Secret Admirer
  • Dek Istri 21+
  • Titik Nadir

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines