Kamu, Tempatku Pulang

Kamu, Tempatku Pulang

  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 10, 2025
Ini bukan cerita fiksi. Ini kisah nyata tentang pertemuan yang tak terduga, rasa yang tumbuh perlahan, berkembang dalam ketulusan, dan bertahan karena saling percaya. Dia datang di waktu yang tak terencana, tentang dua orang asing yang dipertemukan secara tak terduga... lalu menemukan rumah dalam satu sama lain. Dia menjadi seseorang yang mengubah pandanganku tentang cinta, hidup, dan arti kehadiran. Bersamanya, aku belajar banyak hal... tentang mencintai tanpa syarat, tentang kehilangan, dan tentang bertahan. Cerita ini kutulis bukan hanya sebagai pengingat, tapi juga sebagai ungkapan rasa. Karena beberapa kenangan terlalu berharga untuk dilupakan, dan beberapa orang terlalu istimewa untuk hanya disimpan dalam diam.
All Rights Reserved
#366
nonfiksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESA PUNYA CERITA
  • Seperempat Aku dalam Dunianya
  • AMOUR (Mr. Pradipta)
  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • Crazy Marriage
  • NOESIS [END]
  • The Man
  • Sampai Saat Ini, Aku Masih Mengagumi Dirimu
  • Rasa Tanpa Kata

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines